Sunday, April 26, 2020

Hivi!-Pelangi

Ku ingin cinta hadir untuk selamanya
Bukan hanyalah untuk sementara
Menyapa dan hilang
Terbir tenggelam bagai pelangi
Yang indahnya hanya sesaat
Tuk kulihat dia mewarnai hari

Tetaplah engkau di sini
Jangan datang lalu kau pergi
Jangan anggap hatiku
Jadi tempat persinggahanmu
Untuk cinta sesaat

Mengapa ku tak bisa jadi cinta
Yang takkan pernah terganti
Ku hanya menjadi
Cinta yang takkan terjadi
Lalu mengapa kau masih di sini
Memperpanjang harapan

Tetaplah engkau di sini
Jangan datang lalu kau pergi
Jangan anggap hatiku
Jadi tempat persinggahanmu
Untuk cinta sesaat

Kau bagai kapal yang terus melaju
Di luasnya ombak samudera biru
Namun sayangnya kau tak pilih aku
Jadi pelabuhanmu

Tetaplah engkau di sini
Jangan datang lalu kau pergi
Jangan anggap hatiku
Jadi tempat persinggahanmu

Bila tak ingin di sini
Jangan berlalu lalang lagi
Biarkanlah hatiku
Mencari cinta sejati
Wahai cintaku, wahai cinta sesaat

😊😊😊

Aku ingat waktu kamu mainkan alunan melodi lagu ini, membuat aku tidak pernah absen untuk mendengarkannya. Kamu tambahkan gambar pelangi, yang tanpa menebak pun aku sudah tahu yang kamu maksudkan adalah lagu ini.
Aku paham lirik demi lirik, dan sudah ku tanamkan bahwa aku tidak akan menjadikan diriku ini sebagai cinta sesaatmu. Aku tanamkan bahwa kamu bukan persinggahan sementaraku. Aku genapkan bahwa aku bukan pelangi yang memberikanmu keindahan sebentar, lalu pergi begitu saja-- memberikan keindahan di tempat lain.
Kamu ingin aku menjadi pelabuhan terakhirmu, maka aku menjadi demikian.
Aku sulap diriku menjadi pelabuhan terakhirmu, yang semula kamu takutkan aku menjadi perahu yang berlayar ke sana ke mari, tidak tentu arah, dan meninggalkanmu (pelabuhanku). Namun kenyataannya, kamu yang justru berlayar pergi meninggalkan pelabuhanmu. Tanpa pamit, kamu pergi, tanpa meminta izin, kamu mengembangkan layarmu menjauhiku.
Aku masih di sini, menunggumu untuk kembali berlabuh pulang, lenganku terbuka lebar menyambutmu, walau lelah akan kulakukan agar kamu mengetahui aku tidak pernah ingkar janji.

Lucunya, aku menuliskan sesuatu yang tidak akan pernah kamu baca.
Hingga detik ini, aku belum belajar dari kesia-siaan.

Sunday, April 5, 2020

Luka

Pernahkah kalian berusaha sebaik dan sekuat mungkin dalam menjalani sesuatu untuk orang yang kalian kasihi? Mungkin sebagian besar dari kita pernah melewati masa ini. Sebagian dari kita memilih diam, mengunci kisah itu ke dalam kotak yang dikubur dalam.
Ini kisahku yang tidak aku kubur dalam.
Perjuanganku selama bertahun-tahun, memberikan semua yang aku punya untuk orang yang aku anggap istimewa. Rela melakukan kesalahan agar orang tersebut melihatku, memberikan aku ruang gerak sedikit bahwa sesungguhnya memang aku sudah berusaha semaksimal mungkin. Dunia bahkan turut menghakimiku, "Kamu itu perempuan, seharusnya bukan kamu yang berusaha."
Tapi aku memilih bertahan.

Sekalipun aku marah padanya dan bilang bahwa, "Aku sudah tidak peduli kamu mau seperti apa,"
sungguh itu hanya di kalimat. Hanya tulisannya saja seperti itu. Pada akhirnya aku tetap tidak tega meninggalkan dia walau hanya sebentar. Tapi, inilah yang aku alami sendiri. Berkali-kali aku lihat dia lebih memilih orang lain.
Aku tahu sebagian besar dari kalian ada yang beranggapan bahwa, "Tidak apa-apa selagi dia baik ke teman-temannya."
Justru itu yang membuatku semakin tersiksa dengan semua ini. Dia selalu memilih teman-temannya, bahkan jika teman-temannya berbuat salah, tidak pernah ia berniat meninggalkan mereka. Tidak pernah sumpah serapah di hadapan teman-temannya.
Suatu ketika aku mengantar barang penting ke ruangan dia (dan teman-temannya, tentu). Aku pikir dia tengah merenung, sendirian, seperti apa yang aku lakukan setiap kali dia marah. Atau setiap kali kami bertengkar. Ternyata tidak, aku datang dan melihat dia tertawa bersama teman-temannya, 
"Syukurlah dia bahagia," batinku menyemangati hati yang rapuh.
Aku bergetar sendiri ketika aku menyerahkan barang tersebut di tengah-tengah mereka, suasanya berubah hening, tidak ada gelak tawa yang sebelumnya keluar dan merebak ke seluruh ruang. Bertahun-tahun aku tidak mengharapkan tegur sapanya, tidak pula ketika aku merubah suasana tawa menjadi hening saat itu. Tidak heran, sejak semester ini sudah kurasakan dia memang ingin menghindar.

Pertanyaanku, kenapa baru sekarang, ketika aku sudah menyerahkan semua yang aku mampu berikan?
Kenapa baru sekarang ketika semua ikhlas dan sabar aku jalani ketika dia jauh lebih membela teman-temannya dibanding aku, yang dia bilang dia akan menyayangi aku dan membuat aku percaya bahwa tidak semua laki-laki sama?

Hariku berat, kawan.
Aku ingat masa aku bilang padanya, "Aku tidak peduli lagi kamu mau ngapain, mau jungkir balik pun aku tidak peduli." Aku ingat setelah itu kami masih bisa menjalani bertahun-tahun, alias tidak, aku tidak benar-benar tidak peduli.
Kalian tahu, ketika perempuan bilang "Aku tidak peduli" maka sejatinya dia sangat peduli dan tidak ingin meninggalkan kalian.
Satu hal yang membuatku sakit saat ini adalah, dia menggunakan kalimat tersebut untuk meninggalkanku.
Dia bilang, "Dulu kamu bilang tidak peduli kan? Sekarang giliran aku yang tidak peduli mau kamu jungkir balik pun aku tidak peduli."
Deg.
Kontakku diblokir semuanya.
Semuanya.
Sudah satu bulan rasanya seperti ini. Dan bulan depan aku ulang tahun ke-23.
Berat bagiku menjalani ini semua.

Tubuhku bergetar ketika aku ingat betapa luka itu masih terasa sakit dan dalam. Tidak sedikit orang-orang membela dia dan menyalahkan bahwa aku terlalu berlebihan. Tuhan, jika saja mereka tahu bahwa yang sudah aku lakukan untuk dia sungguh di luar akal sehat dan batas kewajaran.
Tidak ada diskusi yang benar antara kami berdua. Dia bicara dengan emosi, bilang ingin berpisah, yang saat itu aku hanya bertanya, "Kenapa balas chat-nya berbeda?" dan kondisiku di kereta listrik, perjalanan ke kampus. Aku menangis sejadinya di Laboratorium, tidak tahu malu kondisi di sana banyak mahasiswa lalu lalang. 

Jika sesederhana itu rasa sakitnya, aku tidak menulis ini sembari meneteskan air mata. Aku menulis ketika aku rapuh, karena melalui tulisan, tersampaikan sebagian rasa takut dan sakit yang tidak bisa aku ungkapkan lewat ucapan. Aku yakin, ada saatnya dia sadar bahwa aku memang selama ini sabar dan ikhlas menerima semua perlakuan pun keadaan dia.

Sampai di sini dulu, orang tuaku akan kesal jika tahu aku menangis karena orang lain :)
Biarkan waktu yang menjawab sebenarnya seperti apa. Biarkan dia yang merasakan jawaban tersebut, karena sesungguhnya ini semua terjadi tanpa keinginanku. Semata keinginan dia. Bahkan, biarkan dia kelak merasakan luka yang aku rasakan. Sabar dan ikhlas, tapi diganti dengan disebarkan duri tajam untuk memaksa pergi.

Thursday, March 19, 2020

Sebutir Hikmah di Akhir Tahun Pendidikanku

Assalamu'alaikum, teman-teman semua yang mungkin saat ini sudah tidak mengakses blog lagi, kecuali blog yang berisi informasi penting :') yap, berkali-kali saya memikirkan ide untuk mengisi blog ini dengan materi penting, namun tidak tercapai. Bahkan, mampu meng-update blog saja sudah bersyukur ahahaha.

Sekarang, saya bukan lagi siswi SMA yang sedang galau hendak kuliah di mana dan jurusan apa. Kabar baik, kini saya sedang menempuh skripsi untuk memperjuangkan gelar saya menjadi sarjana sains, tepatnya Ilmu Kimia. Bismillah, saya sendiri tidak begitu yakin dengan penelitian saya. Banyak kekacauan yang terjadi, termasuk baru-baru ini ada virus Covid-19 yang menyebabkan penelitian saya ditunda selama dua minggu. Mendebarkan, khawatir rencana kerja saya tidak berjalan dengan baik. Belum lagi tinjauan literatur saya yang belum bisa saya maksimalkan.

Bukan tanpa alasan saya belum dapat melakukan tinjauan literatur, memperdalam penelitian, metode, dan beberapa analisis terkait hasil yang saya peroleh. Dalam hidup ini, seringkali manusia berbuat kesalahan, kecil ataupun besar. Tidak peduli ukurannya, kesalahan tersebut pasti berpengaruh terhadap langkah selanjutnya, Inilah yang terjadi dalam hidup saya kini.

Kebodohan yang saya lakukan. Menerima satu orang dalam hati, mengisi penuh hati saya dengan sosok tersebut. Berusaha menanam semua benih perasaan tanpa peduli risikonya. Toh, dia bilang pasti serius. Pasti menepati janji, bahkan dia memberikan sesuatu sebagai tanda bukti keseriusannya. Kebodohan saya, tidak menolak tanda bukti tersebut, justru mengiyakan dengan hati yang rapuh.
Ya, dia telah "membentuk" saya selama bertahun-tahun. Sejak awal memang saya sulit percaya padanya, apalah daya seorang wanita yang sebelumnya diperlakukan tidak baik dengan lawan jenis? Pasti di dalam hati masih terkandung rasa tidak percaya, meskipun subjeknya kali ini berbeda. Tetap saja. Saya tidak bisa mempermainkan perasaan, maka saya berikan, saya berusaha berikan perasaan saya utuh kepadanya. Rasa percaya saya tanamkan selama kurang lebih dua tahun. 

Mengasihinya untuk pertama kali, memberikan dia senyuman dari jauh karena saya terlalu takut jika ada banyak orang yang tahu. Memberikan dia doa dari jauh, memberikan dukungan, dalam senyap saya membatinkan agar apapun yang dia kerjakan berbuah keberhasilan. Jujur, saya menangis menuliskan tiap kesenyapan yang saya lakukan pada saat itu. Saya berani bilang bahwa ini adalah suci, tidak semua wanita (kecuali anggota keluarganya), mampu atau bahkan mau melakukan hal tersebut tanpa pamrih.

Tidak pernah saya ingin tahu hartanya.
Ketika orang lain banyak yang membicarakan hartanya.
Tidak pernah saya ingin tahu kepandaiannya.
Ketika orang lain banyak yang inginkan kepandaiannya.

Ketika dia datang kepada saya, saya berjanji untuk tidak melukainya. Gagal? Saya coba lagi. Saya coba terus. Saya ulangi lagi. Apapun akan saya lakukan untuk menutupi kegagalan saya pada saat itu.
Namun, justru itulah kebodohan saya, semua telah saya relakan. 
Tidak bisa melihatnya marah, maka saya tekan ego saya agar bisa mengalah. Saya maafkan semua kesalahannya, baik yang dia akui atau tidak akui. Sakit adalah sakit, namun maaf tetap saya berikan. Setiap pertengkaran saya tutup dengan senyuman, bukan karena saya merasa menang, tapi karena saya betul-betul tidak ingin dia marah lagi. Saya paham bahwa jika dia api, maka saya harus jadi air, bahkan mungkin es. Menjadi es di tengah api, memadamkan semuanya.

Bertahun-tahun saya berani mengambil langkah yang belakangan saya pelajari "itu salah."
Pun, dia terkesan tidak ingin mengingatkan, "Jangan seperti itu." 
Bagaimana saya tidak banyak mengalah apabila saya terus menerus ditekan oleh emosinya yang semakin menjadi-jadi? Bagaimana saya, seorang wanita yang pada saat itu berusaha memberikan hati dan kepercayaan untuk pasangannya, berani mengambil langkah ekstrim, jika tidak ada jalan keluar lain selain perpisahan?
Saya tidak pernah main-main. Ternyata justru saya yang dipermainkan, seolah-olah, bentuk ancaman yang tidak kasat mata dia berikan, "Kalau kamu tidak A, maka berpisah. Maka tetap saya ungkit. Maka tetap seperti ini."
Memang, tahun pertama bersamanya saya adalah orang yang paling tidak percaya dengan semua kata-katanya. Saya tikam dia secara nyata dengan semua pikiran negatif saya tentang laki-laki. Hingga akhirnya, semakin hari pada saat itu saya sadari, lebih baik saya mencoba lebih percaya. Dua tahun berikutnya, saya berusaha lebih keras lagi untuk bertahan. Memendama semua kekecewaan, memahami lebih dalam, ego saya tekan, dan tidak memaksakan kehendak. Berulang kali saya tanyakan, "Kamu berjanji untuk serius?" dia selalu menjawab, "Ya, saya sangat serius."


Dia meninggalkan janjinya.
Akhir yang tragis.
Di penghujung tahun pendidikan saya, justru dia yang meninggalkan saya dengan alasan yang pernah saya dengar, yang menjadi faktor saya sulit percaya dia di awal tahun kebersamaan. Yang menjadi cambuk, menjadi silet, membuka semua luka yang baru saja saya balut.
"Kamu ternyata seperti ini."
Seperti apa? Saya bahkan tidak tahu saya seperti apa. Semua alasan yang dia keluarkan hanya berlandaskan tahun pertama dia terluka, semua penjelasan saya tidak didengarkan, bahkan semua yang saya lakukan tidak diindahkan.
Saya telah merelakan semua.

Benar-benar berat untuk saya menjalani ini.
Kini, dia menutup semua akses komunikasi. Saya yakin, dia merasa dia menang karena berhasil membuat saya menyerah. Saya yakin, justru dia bisa tertawa, bisa merasa puas karena kebosanan dia akhirnya terputuskan.

Hanya Allah tempat saya bersandar.
Tidak semestinya saya mengambil jalan ekstrim, di balik punggung kedua orangtua saya, tanpa menceritakan secuil pun bagaimana saya melalui itu semua dengan keputusan saya sendiri. Saya menekan ego di depan wajahnya, tapi saya justru egois di depan kedua orangtua saya.
Kini, bukan hanya nama baik saya saja yang tercoreng. Nama baik orangtua, adik-adik, kakak-kakak saya, semua sudah rusak.

Dia tidak akan paham, bahwa banyak hal yang berani saya lakukan, yang di luar batas kewajaran, adalah karena rasa percaya kepadanya.
Dia tidak akan paham, bahwa  banyak hal yang berani saya lakukan, hanya untuk meminta maaf dan kembali membuatnya bahagia.
Dia tidak akan paham, bahwa tidak semestinya berakhir seperti ini, komunikasi jarak jauh, tidak intensif, tidak ada tatap mata. Semua spontan. Egois.

Maka, biarkan pengalaman pahit ini saya yang memahami.
Laki-laki yang baik pasti memaafkan, tidak tega apabila wanita harus melakukan semuanya terus menerus.  

Semuanya.

Saturday, June 16, 2018

Makna Kejujuran

Assalamu'alaikum, para penonton pembaca :'D
Akhirnya saya muncul kembali setelah sekian bulan lamanya penulis menghilang dari tanggung jawab sebagai pemilik, sekaligus satu-satunya admin di blog ini. Alasan klasik yang selalu sama, sejak dulu tidak pernah berubah, yaitu kesibukan kuliah dan mencari sesuap IPK demi masa depan yang cemerlang :'D

Kabar terbaik yang bisa saya bagikan adalah, Alhamdulillah tepat di bulan ini saya selesai menempuh perjalanan semester 4 dengan predikat cukup baik. Meskipun sejatinya nilai di semester ini belum keluar, saya berusaha tetap optimis bahwa nilai proses selalu mengiringi hasil akhir, apapun itu bentuknya.
Oke, berhubung saya tergolong masyarakat apa adanya, tidak terlalu pasif pun tidak aktif, pemerhati lingkungan namun tidak terlalu peduli, saya ingin membagikan sedikit cerita perjalanan selama sekolah hingga kuliah di Kimia.

Sebelum berat badan saya mencapai 50 kg, saya merupakan sosok makhluk nyata yang sangat menghargai kejujuran. Bagi saya, apapun yang saya miliki dan dapatkan, itu harus merupakan hasil dari buah kejujuran yang saya kerjakan. Baik dalam hal akademis, penghasilan, maupun urusan cinta. Ehm.Waktu sekolah dasar dulu, saya mendapati teman saya selalu melirik ke belakang, bukan karena saya cantik dan menarik, tetapi lembar jawaban komputer saya menjadi primadona baginya. Saya tidak mengerti mengapa, padahal saya bukanlah anak yang pintar, terlihat dari kebiasaan saya jajan gorengan bumbu kacang di kantin sekolah. Lirikan teman saya itu membuat saya kesal dan sangat terganggu. Fokus saya terbagi antara melindungi LJK dengan menutupi menggunakan tangan sambil mengerjakan soal ujian.

Di SMP saya mengalami kejadian yang hampir serupa, namun lebih liar. Kelas 7, entah kebetulan dari mana saya mendapat gelar-gelaran murid berprestasi. What? Ya, setiap peringkat 1, 2, dan 3 di kelas diberikan gelar seperti itu oleh sekolah untuk diikutkan seleksi olimpiade. Menurut saya itu terlalu dini, bahkan saya belum tau olimpiade itu seperti apa. Lanjut. Sewaktu ujian, teman saya dengan watadosnya (watados: wajah tanpa dosa) mengambil lembar jawaban saya ketika saya meregangkan tangan sejenak. Di situ sempat terjadi percekcokan, di mana saya hanya bisa, "ih balikin" saat si perebut asik menyalin jawaban. Syukurlah salah satu teman yang lain berhasil merebut dan mengembalikan lembar jawaban saya. Saat itu saya sangat kesal, pun teman penyelamat tadi ikut kesal. Betapa mudahnya mengambil hasil kerja orang lain tanpa merasa bersalah dan tidak ada permohonan maaf.

Sejak kejadian itu, saya benci para pelaku kecurangan. Saya sendiri berjanji untuk tidak curang ketika ujian, setidak mampu apapun saya. Ohiya, waktu SMA kelas 12, teman saya berlomba mendapat nilai terbaik, karena nilai semester 5 penentu kelulusan SNMPTN. Satu kelas (kecuali saya dan teman sebangku sebut saja Tika), membuat contekan jawaban ulangan harian Fisika. Bayangkan. Jawaban. Kebetulan mereka dapat soal-soalnya dari kelas sebelah yang sudah ujian. Kesal bukan main, dengan berani saya dan Tika menceritakan itu kepada guru kami. Hasilnya, diadakan ujian ulang dan kami dibenci satu kelas :'D
Kami mendapat cerita dan sempat mendengar sendiri desas desus bahwa anak kelas kami membuat grup baru tanpa ada kami :'D
Entah darimana mereka tau bahwa kami bercerita kepada guru, padahal guru kami sudah meyakinkan bahwa tidak akan membuka identitas kami..

Waktu pengumuman SNMPTN, betapa sakitnya saya melihat teman yang terbiasa mencontek lulus diterima PTN sementara saya harus berjuang di tahun berikutnya. Ya, berjuang lagi di ujian tulis PTN tahun 2016.

Tetapi, entah mengapa semakin saya berproses dengan jujur, semakin saya mempunyai rasa malu untuk mencoba satu kali berbuat tidak jujur. Terutama ketika ujian. Komitmen jujur ketika ujian selalu saya pegang hingga di bangku kuliah. Sakit rasanya hati ini membayangkan bahwa, bagaimana mungkin saya tega mengkhianati keringat saya sendiri hanya untuk satu mata kuliah tertentu.
Lain halnya dengan kawan lain yang belum berani berkomitmen atas kejujuran. Terlihat mudah sekali menyimpan jawaban, menyelipkan jawaban, bertukar jawaban, hingga membuka alat komunikasi. Saya bukanlah anak yang pintar di kampus, perlu beberapa jam untuk saya memahami satu materi, pun nilai saya tidak lepas dari unsur karbon. Namun, entah mengapa saya takut tidak jujur ketika ujian. Bukan karena takut dapat nilai 0, tetapi lebih karena keberkahan di dalamnya.

Bagaimana jika ada satu orang yang sakit hati ketika ia sudah belajar keras, sementara kita yang tidak terlalu belajar sudah siap sedia dengan "strategi" untuk mendapat hasil yang diinginkan? Tambahan lagi, bagaimana jika orang tersebut sakit hati dan tidak segan mendoakan keburukan bagi kita? Naudzubillah..
"Ah, salah sendiri dia baperan liat orang nyontek"
Oke, coba renungkan keberkahan yang didapatkan ketika berlaku jujur. Saya yakin betul bahwa kejujuran akan membawa berkah, apalagi kita sebagai insan terdidik yang berharap mendapat ilmu bermanfaat.

Saya pernah satu kali ujian Kimia Dasar 2 tidak membawa kalkulator. Saat itu ujian sudah berlangsung dan saya baru sadar tidak membawa kalkulator. Ya, betapa bodohnya saya. Tetapi, sekalipun saat itu saya betul-betul blank karena panik, sekaligus tidak bisa menghitung hitungan yang kompleks, prinsip jujur tetap ada. Saya kerjakan semampu mungkin dengan nilai akhir yang Alhamdulillah tidak mengecewakan :'D

Sedikit cerita, nilai saya yang tidak lepas dari unsur karbon, yang saya dapatkan dengan jerih payah sendiri (jujur tanpa contek mencontek) nyatanya membawa berkah tersendiri. Alhamdulillah, saya mendapat beasiswa one time grant yang nominalnya cukup untuk biaya kuliah. Inilah bentuk keberkahan yang saya maksud, wujud dari kesabaran dan penerimaan atas apa yang Allah anugerahkan. Prinsip kejujuran juga saya pegang ketika mencari penghasilan. Alhamdulillah, mulai semester ini saya sudah berani menghasilkan uang sendiri dengan mengajar, meskipun belum terlalu berpengalaman. Saya paham betul bagaimana lelah dan sulitnya mencari uang. Saya amat tidak ingin mencari uang dengan cara yang tidak jujur, baik itu dalam bentuk mencuri atau apapun. Terima kasih kepada keluarga dan teman-teman saya yang selalu membantu ketika dompet saya sisa 15 ribu :'D
Ya, sebenarnya saya tipe yang malu ketika meminta uang atau ketika dibelikan ini itu, jika hal tersebut bukanlah kewajiban orang yang bersangkutan. Tetapi, mereka yang menyayangi saya, yang ikhlas membantu dan memberi ketika saya butuh, itu adalah anugerah tersendiri yang saya dapatkan. Dan mereka mungkin tidak akan datang apabila saya tidak meraih rizki dengan cara yang jujur (halal).

Inilah sedikit makna dari kejujuran yang ingin saya bagikan. Semoga, apapun hasil semester 4 nanti, saya dapat memaknai kejujuran dan rasa syukur dengan lebih baik :'D
Jika saja ada sedikit atau banyak kegagalan yang didapatkan, semoga hal itu menjadi tangga yang membantu saya mencapai puncak keberhasilan. Harapan baik ini berlaku untuk pembaca sekalian, para pejuang yang tidak kenal lelah.

"Jujurlah, meskipun kejujuran itu membawamu ke neraka."

Saturday, February 10, 2018

Tentang Hari Ini

Entah apa yang terjadi, rasanya sulit untuk melepas pun sulit melanjutkan dengan cara yang sama.

Wanita, seperti sebuah bunga. Yang di luar terkesan lemah, namun sejatinya ada duri yang siap melindunginya. Seperti sebuah bunga yang indah dipandang, pun rapuh mahkotanya.

Aku hanya ingin kamu mengerti, bahwa tidak mudah mendapatkan bunga yang tumbuh di puncak ini. Aku ingin kamu mengerti ketika kamu sudah mendapatkan, maka mempertahankan justru akan jauh lebih sulit.

Egois tidak akan pernah hilang sekalipun kita menginginkannya. Cukup saling mengerti apa yang dibutuhkan, cukup saling menghargai atas kehadiran satu sama lain.
Aku, yang memiliki banyak kebutuhan, namun tidak ingin menuntut akan apa yang tidak kamu miliki.
Kamu, yang memiliki banyak kemampuan, sehingga tidak ingin aku mengeluh atas apa yang kamu lakukan.

Kita perlu banyak belajar.

Entah dari siapapun itu, belajarlah untuk selalu ada dan selalu mengerti meskipun salah satu dari kita tidak melihat itu.

Sunday, January 21, 2018

Karena Aku Terluka

Tidak sehebat orang lain yang mampu jadi cahaya di tengah kegelapan, yang mampu menjadi mutiara di tengah lumpur, bahkan di tengah berlian.
Aku masih membawa gelap di dalam kegelapan, masih membawa ketapel di tengah Perang Dunia II.
Ke mana senjataku yang dulu? Masihkah ada sisa harapan untuk melawan semuanya? Masihkah ada sisa kemampuan untuk bertahan?

Setelah semua yang mereka katakan, mereka lakukan, bahkan mereka catat semua tentangku.
Mereka berhasil menguasai hampir semua kesan terbaik yang aku tunjukan.
Aku ingin menjadi yang terbaik? Ya. Agar aku menjadi seperti mereka--terang di dalam gelap.

Mungkin saatnya untuk menyerah, saatnya untuk menyudahi semua perlawanan.
Tidak pernah mempan rasanya usaha untuk bangkit kembali, untuk mengabaikan galat yang ada.

Biarlah.
Nikmati luka itu.

Monday, January 1, 2018

Tidak Ada Judul

Hai.
Dua belas hari lagi kita mungkin bertemu. Entahlah, kamu sudah bilang untuk tidak ada lagi hari itu, hari yang selalu aku tunggu dan yang paling indah dari 365 lainnya.
Berikan aku waktu sejenak untuk mengungkapkan semuanya, kapan aku bisa masuk ke sana, hingga kamu mengerti bahwa aku tidak pernah bermain-main? Tidak ada sandiwara sedetik pun.
Bahkan lidah ini kelu setiap aku ingin mengeluh di hadapanmu. Prasangka yang membuatku takut untuk mengatakannya. Tidak, aku bukan takut. Aku hanya ingin mengalah terhadap keadaan. Biarkan semuanya mengalir tanpa ada campur aksaraku di sana.

Tuan, aku sungguh tidak mengerti.
Pikiran ini bahkan meracau kalut tak tertahankan. Pernahkah aku menanam luka yang sengaja aku tumbuhkan di sana? Pernahkah aku mendesiskan bualan hanya demi kebahagiaanku sendiri? Pernahkah, Tuan, aku berhenti walau sedetik, untuk tidak menuliskan huruf demi huruf yang terangkai indah hanya untuk kamu (dan aku)?
Maaf, masih adakah aku?
Masih hidupkah namaku di sana?

Betapa aku melihat kamu berani tanpaku, betapa aku lihat kamu kuat tanpaku. Dapatkah kamu menjelaskan semuanya?

Tuan, tanya ini selalu untukmu, aku harap kamu mengerti, "siapkah kamu membersamai ilalang di tengah taman penuh bunga-bunga indah nan gemulai?"

Biarkan aku bahagia olehmu, Tuan. Biarkan kita bahagia, berhenti menyiksa hati.
Biarkan aku, ilalangmu, hanya bisa dimengerti oleh Tuan.

Jika kamu mengerti, kawanku yang jauh lebih indah daripada diriku ini selalu memanggil untuk aku kembali.
Aku menghabiskan senja untukmu, apakah Tuan lupa?
Aku mengabaikan mereka agar aku bisa melihat Tuan bahagia, merasakah Tuan?
Kisahku, susahku, hanya aku curahkan kepadamu, walaupun setiap hurufnya kadang mampu menggoreskan luka. Ke mana kah Tuanku selama ini?

Tuan, untuk sekali saja, biarkan aku bernafas dengan cintamu. Biarkan aku layu dengan penuh kebahagiaan bahwa ada seseorang yang bersedia menjadi kawan sepanjang hidup ilalang ini.

Hanya engkau.
Namun tak jua kabut itu hilang.

Salam,
Ilalangmu, yang selalu rindu.

Monday, December 25, 2017

Pick Your Head Up, Princess!

Yayaya, mungkin 3 abad yang lalu saya menulis di blog yang "awalnya"  diniatkan untuk menulis hal-hal berfaedah, ilmiah, dan berbobot. Berkecimpung di dunia perkimiaan membuat saya lupa akan tugas mulia saya sebagai satu-satunya admin yang aktif mengurus irtuper.blogspot.com (haha berasa punya banyak admin)
Gimana rasanya kuliah? BEDA. Oke, intinya kuliah itu berhasil membuat diri saya semakin galau "akan jadi apa nanti?" yha ibarat que sera sera, what ever will be, will be, saya berusaha untuk "yowis karep dadi opo sing penting ora nyusahkeun" (?) bukan, saya nggak punya niat buat jualan handphone kok..... okesip.

Di sini saya tidak bercerita banyak mengenai suka duka asem manis pahit asin rame rasanya kuliah, tapi lebih mau cerita tentang bahasan yang sebenarnya basi kali yah buat jadi bahan perbincangan di era tubirisasi ini. Maaf, saya memang belum skripsi, masih anak bawang di kampus, tapi ini adalah curahan hati dari seorang wanita yang beranjak 21 tahun di mana tangan mungil ini akan menerima undangan dari teman sebaya yang akan melangsungkan pernikahan.

Oke.
Buat pembaca sekalian (terutama kaum wanita) yang sedang berbunga-bunga alias dimabuk cinta, selamat kamu akan melewati fase di mana kamu dan dia benar-benar diuji. Gimana maksudnya? Awal kalian kenal, mungkin kalian bakal sering ngerasa 'Akhirnya gue nemu jodoh gue,' 'ih dia keliatan baik dan penyayang banget ya' dan lain sebagainya, di mana pemikiran seperti itu datang karena kalian masih menyembunyikan jati diri kalian yang sebenarnya. Baik dirimu dan dirinya, sama-sama ingin menjaga image dalam rangka mengurangi sifat-sifat yang bakal mengecewakan.
Urusan komunikasi, pastinya lancar jaya, ada aja bahasan yang jadi topik perbincangan, bahkan malah suka diulang-ulang. Lagi-lagi, masing-masing dari kalian memegang kendali penting dalam situasi ini. Rasa nyaman dan (mungkin, tapi ini dilarang) tidak ingin kehilangan teman bicara, membuat kalian bisa saling bertukar cerita setiap hari, setiap menit, bahkan kalau bisa setiap detik. Ingat, jangan sampai salah satu dari kalian merasa sakit ketika harus tau bahwa, "lo cuma gue anggep temen ngobrol doang kok" sakit bruh, udah 'cuma' ditambah 'doang'.

Lalu, mana ujiannya? Semua terlihat indah tuh? Iya, indah pada awalnya, hingga ada satu masa di mana itu titik awal pertempuran yang menguras tenaga, emosi, dan air mata.
Setelah tau si dia ternyata nggak sesuai sama apa yang kita harapkan, lantas itu jadi modal besar untuk memicu keributan. Entah ternyata dia memang cuek dan terkesan enggan terlihat manis di depan kamu, atau kamunya yang ternyata orang yang BM-an alias banyak mau. Intinya, masing-masing dari kalian akan (paling tidak pernah) mengucap "oh ternyata kamu gini ya."
Setiap penyakit ada obatnya. Buat para pembaca berhati kuat yang sedang mengalami fase ini, coba untuk ingat kembali bahwa kalian memilih menjalani ini semua bukan karena dia seperti apa atau akan jadi apa. Dia adalah dia. Bersyukurlah ketika kamu jadi tau "lecet"nya si dia, karena suatu saat nanti, justru lecet itu yang bakalan membuat kalian "berbeda", menguatkan, serta memperindah jalan yang kalian lalui. Dan, hei, jangan sedih, lihat sisi baiknya, hanya kamu yang mengetahui seperti apa dia, bukan orang lain. Poin tambahannya, mencintai itu bukan sekadar menerima apa adanya, namun juga melengkapi bagian yang kurang dari diri masing-masing.

Lanjut.
Suatu hari, komunikasi kalian tersendat. Entah karena dia asik dengan kawan-kawannya, ujian, atau karena hal lain. Hmm ini merupakan bagian tersulit menurut saya. Harus ada tek tok yang jelas antar masing-masing individu. Kita berhak bertanya, "kenapa susah dihubungi?" atau seperti lagu kangen band, "kamu di mana? dengan siapa?" oke skip. Buat kaum hawa memang sulit rasanya untuk cuek terhadap kondisi yang di sana. Tapi, sebetulnya semua akan baik-baik saja. Jika memang dia tidak ingin jujur atau bahkan memang tidak ingin mengungkapkan apa yang sebenarnya terjadi, tetaplah menjadi pelita di hidupmu /ea
Maksudnya, sebagaimana pun kamu memikirkan dia, tetap kendalikan pikiran agar waktu yang tersedia tidak terbuang sia-sia. Cobalah untuk tersenyum dan mulai berkata "oke, dia memikirkan dirinya sendiri, maka aku juga akan bertindak demikian"
Be strong, girls!

Banyak faktor yang membuat kamu dan si dia bertengkar atau merasa tidak nyaman. Jangan anggap itu sebagai beban, anggap itu sebagai krayon sinchan yang mewarnai perjalanan hidup kalian berdua. Ayeay.

Nah. Setelah tadi bermanis manja dengan situasi yang djelimet, namun tetap indah, sekarang saatnya masuk ke bagian terpahit.
Yap.
Ketika kamu dan si dia sudah tidak saling cocok, dalam hal ini sudah tidak menemukan jalan keluar dari keinginan masing-masing, egois berada dalam puncak tertinggi, dan tidak ada lagi kata respect dalam kamus kalian, sudah! Lupakan.
Satu hal yang pasti dan perlu diingat, dia bukan yang terbaik. Masih ada seseorang yang jauh lebih baik daripada dirinya. Pun, kamu masih bisa mengembangkan kemampuan kamu, sehingga kualitas diri kamu akan melesat jauh.
Jangan berharap bahwa dia akan kembali. Tidak ada istilah yang tepat untuk menggambarkan hal tersebut. Cukup fokus ke dirimu, impianmu, dan mulai lembar baru!
Based on true story, kadang ketika lagi sedih-sedihnya ditinggal, pergi ke tempat wisata itu bisa sangat membantu. Mengapa? Karena di situlah kita bisa menghibur diri sendiri, sambil memungut kembali bongkahan, hingga kepingan yang sudah hancur. Mungkin kita sudah telanjur berharap banyak, namun ingat, harapan kita tidak hanya terpaku pada satu hal saja, masih banyak harapan yang harus diwujudkan. Bahkan, bisa jadi itu adalah ladang kebahagiaan tempat kita tinggal.
Terlebih, jangan sampai kesedihan yang datang merusak kebahagiaan yang kita dapatkan. Kamu berhak bahagia :D

Dapat disimpulkan bahwa tulisan saya kali ini mostly tentang bagaimana mengatur dan mengatur-ulang hati bagi yang sedang berada dalam salah satu dari fase di atas. Yap, memang, rasanya campur aduk. Tapi sekali lagi, jangan jadikan itu sebagai beban. Buat kaum wanita, tetaplah kuat, jadi dirimu sendiri, dan jangan lupa untuk bahagia. Stop crying. Pick your head up, Princess, your tiara is falling!

PS: membenci dan mencintai secukupnya, jangan serahkan semuanya hanya demi urusan perasaan. You're pretty precious.

Saturday, November 18, 2017

Langit

Aku selalu menitipkan salamku untukmu lewat birunya langit di pagi hari.
"Aku rindu," begitulah bisikku kepada mereka. Semoga kamu selalu mendengar bisikannya, kamulah langitku, langit pagi dan malamku, langit siang dan petangku.

Langitku, aku tidak membenci pelangimu, si indah yang berada di sisimu ketika kamu menangis. Aku ada di bawah sini, masih menatapmu penuh harap agar kamu tidak perlu mengalirkan sedihmu begitu deras. Aku ada di bawah sini, ketika pelangimu hilang, ketika ia lenyap tak bersisa dari singgasananya.

Aku hanya membenci gemuruh itu. Aku benci gemuruh yang membuatku menjerit keras, bahkan aku menatapmu ketakutan.
"Tolong, hentikan," tetapi engkau terlalu asik dengan gemuruhmu, langit. Saat ini, gemuruhmu memuncak, sedang aku hanya menunggu di sini, menunggu langitku untuk kembali lagi.

Langitku, ingatkah kamu tentang awan-awan yang menyelimutiku ketika aku bersamamu? Ingatkah kamu tentang terpaan hangatnya sinar yang kau pantulkan hingga aku merasa akulah manusia paling beruntung di muka bumi ini? Ingatkah kamu tentang dongeng yang kamu bacakan ketika aku berbaring, duduk, dan termenung? 

Aku rindu, langit.
Sangat amat rindu.
Duhai langit, sampaikah rinduku kepadamu?

Thursday, August 10, 2017

Teruntuk Kamu



Sebuah kesempatan besar bagiku untuk menulis lagi di lembar halaman kosong yang kini tengah aku tatap. Aku harap aku memiliki tatapan seindah tatapanmu. Aku harap hatiku seputih lembaran ini.

Teruntuk kamu,
Masih terekam jelas di benakku bagaimana aku melihatmu untuk pertama kali. Kamu baik, kamu mengerti bahwa aku tidak bisa mengambil gambar kita secara jelas. Aku terlalu lupa untuk berterimakasih atas bantuan yang kamu berikan saat itu. Aku terlalu malas untuk menyimpan gambar itu sampai aku benar-benar membutuhkannya.

Teruntuk kamu,
Hari demi hari masih bisa aku lewati dengan bayang lama yang pernah aku ceritakan kepadamu. Jauh sebelum itu, aku merasakan getirnya sebuah harapan yang kusia-siakan untuk seseorang yang keliru. Aku tidak pernah mau memberikan harapku untuk orang lain. "Tidak akan pernah lagi," begitulah janjiku. Tidak ada yang bilang bahwa memang mudah melewati masa-masa tersebut. Rasa pahit selalu mengganggu, hingga kamu datang tanpa sengaja. 

Teruntuk kamu,
Aku tidak pernah berharap ada yang lebih indah dari pelangi selepas hujan. Aku tidak pernah berharap teduhnya pepohonan dikalahkan oleh sesuatu yang lain. Tapi kamu berhasil. Dirimu yang seutuhnya mampu memberikan keindahan dan keteduhan itu, seolah tidak peduli betapa kuatnya dinding berlapis janji yang pernah aku bangun sebelumnya. "Tidak akan pernah lagi," begitulah janjiku.

Teruntuk kamu,
Aku sangat bahagia sepanjang kamu meruntuhkan bangunan kokoh yang telah aku dirikan sebelumnya. Seolah kamu adalah mimpiku yang baru. Kamu adalah bintang yang selama ini bersembunyi di balik awan yang suka sekali menipu. Kamu adalah bahagiaku dan kebahagiaanku melampaui segalanya. Perasaan yang membuncah setiap melihatmu tersenyum. Aku ingat bagaimana senyummu ketika aku duduk dekat denganmu. Aku harap kamu bahagia saat itu. Aku ingat jalan yang kita lalui bersama dengan cerita yang seolah kita dendangkan selama ini. Aku merasakan alunannya setiap aku mengingatnya.

Teruntuk kamu,
Izinkan aku menjadi nyata bagimu. Kamu bilang, hanya aku yang mampu memenangkan dan menenangkan hatimu. Itu seperti mimpi. Maka, bantu aku untuk mewujudkan itu, senyata mungkin. Aku ingin menjadi wanita yang tangguh, yang tidak melulu menangis karena hal kecil, yang tidak merengek meminta untuk diperhatikan.

Teruntuk kamu,
Telah aku simpan mimpi kita, telah aku buat memori di dalam kotak kecil ini, jauh ku letakkan dalam pikiranku. Kelak mimpi itu tidak akan pernah kubuka tanpa kunci yang kamu berikan. Maukah kamu membuka mimpi itu bersamaku? Jika satu saat kamu bertanya di mana kotak itu berada, ketahuilah bahwa, kotak itu tidak akan hilang, aku telah menitipkannya di tempat semua mimpi bermuara.

Teruntuk kamu,
Malam ini, maafkan aku jika aku kembali merasakan getirnya pengharapan. Aku tidak bisa menahan semuanya sendirian. Yang kutau, jika itu maumu, maka akan aku bebaskan kamu. Yang kutau, kamu telah memberikan banyak hal untukku, meskipun kamu tidak mengingat semuanya. Itu bagus, biarkan aku yang ingat agar aku bisa menghargai pemberianmu.

Teruntuk kamu,
Cukup sudah dengan kesedihan ini.. Aku tidak memiliki kuasa apapun untuk menahan setiap bulir air mata yang jatuh di atas tarian jari-jari lemahku ini. Aku tidak berharap kamu melihatku menangis, aku ingin selalu terlihat kuat di depanmu, aku ingin selalu terlihat ceria ketika bersamamu. Maafkan aku jika kamu merasa dibohongi dengan tingkahku selama ini. Tapi, sungguh, aku hanya ingin membuat kamu bahagia. 

Teruntuk kamu,
Rasanya akan sangat sulit untuk mengabaikan satu sama lain secara utuh. Tentukan pilihanmu. Apapun itu, aku selalu siap. Aku berharap air mataku sudah kering, sehingga tidak ada lagi yang tersisa ketika kamu menyudahinya.

Ini malam yang indah, bukan?
Hujan sedari sore hingga malam memberiku secercah harapan bahwa esok akan lebih baik.
Ya, dengan atau tanpamu.

Jika kamu masih menginginkan segalanya, aku masih di sini, di tempat yang sama.
Kamu mengenalku, bukan?

Saturday, December 31, 2016

Putus Asa? Hmm

Haluuuuuuuu~
Luhaaaaaaaa~(?)
Hwa sudah sangat lama blog ini tidak terjamah oleh jari jemari yang siap menari dan mengisahkan sebuah kisah kehidupan hari demi hari. Alhamdulillah, akhirnya bisa kembali menulis walaupun dengan kondisi takut menghadapi IP pertama.
Oke.
Kembalinya saya di dunia curhat menulis adalah ingin berbagi kisah tentang sebuah perjuangan. Sejujurnya, tahun lalu saya sudah menuliskan kegelisahan ditolak "si dia" berkali-kali. Namun, akibat kesalahan teknis pada admin, akhirnya tulisan tersebut dihapuskan dan dilenyapkan dari muka bumi.

Jadi..
Mungkin saya akan mengulasnya dan merangkumnya menjadi satu kesatuan dengan kisah yang saya alami saat ini.
Selamat membaca~

Lulus SMA mau ngapain? Kuliah, kerja, atau bahkan nikah (?)
Pilihan ideal bagi lulusan abu-abu adalah kuliah. Yap. Kuliah menandakan bahwa diri sendiri tidak lagi berjiwa "abu-abu" (penuh kebimbangan), melainkan sudah mantap melangkah, memiliki pendirian, dan pendewasaan yang lebih matang.
Bagi si idealis, pernyataan "lulus SMA harus kuliah" adalah sangat tepat. Namun, bagi si realistis, hanya realita lah yang mampu menyuarakan isi hati dalam kisah hidup mereka.
Ya.
Siapa yang tidak berjuang untuk meraih mimpinya?
Bahkan, saya sendiri sudah memiliki ambisi sejak kelas X, walaupun impian saya kerap kali berubah-ubah. Semangat belajar yang tiada henti, semangat berorganisasi, semangat mengenal lingkungan SMA, dan semua semangat untuk mengembangkan potensi diri di bidang sains dan sosial selalu saya kembangkan. Bukan untuk kesombongan, melainkan hanya pengalaman. Sebatas pengalaman. Hambatannya? Didominasi oleh manajemen waktu yang buruk, kesehatan terganggu, dan masih belum bisa mengambil keputusan.
Setiap manusia berhak menilai diri sendiri dan memulai memperbaiki setiap kesalahan yang ada pada langkah-langkah kecil kehidupannya. Kelas XI, saya membuka mata untuk menatap impian saya lebih dalam. Saya sudah jatuh di bidang Fisika, karena kebetulan saya anggota science club bidang Fisika. "Kebetulan" itulah yang membawa saya ke tahap ajang olimpiade, walaupun hanya sampai tingkat kota :')
"Kebetulan" itulah yang lagi-lagi mengajak saya berkontribusi lebih banyak di science club serta mengasah kemampuan organisasi dan mengendalikan emosi (?)
Jujur, kesibukan di kelas XI benar-benar membuat saya hampir melupakan belajar. Ranking turun drastis di semester 1, sehingga semester 2 saya harus kembali mengerahkan seluruh tenaga, jiwa, dan raga untuk membenahi akademik yang terhempas. Sungguh, di kelas XI saya baru belajar mengatur waktu untuk amanah di science club, kerohanian, dan amanah sebagai siswa.
Bagaimana dengan kelas XII? Puncak dari kegelisahan, ambisi, dan tikung menikung terjadi pada masa ini. Dulu, semua siswa kelas XII pasti ingin lolos SNMPTN (jalur masuk PTN tanpa tes). Yap, segala cara dilakukan agar nilai di rapor memuaskan, bahkan mungkin sangat memuaskan. Cara halal, setengah halal, sampai cara haram pun dilakukan. Bisa dibilang di kelas XII ini saya belajar memilih prioritas waktu dan prioritas pengeluaran. Saya mulai membuka mata bahwa ini saatnya untuk tidak mendengar apa kata orang lain. Biarpun orang bilang "kok lo belajar mulu sih..." "udahlah, taro bukunya" atau "besok masih bisa belajar kan" atau lebih parah "nih soal dari kelas sebelah, soalnya sama persis buat nanti ujian, pake aja..", tetaplah berpegang teguh terhadap apapun pilihan yang kita pilih sejak awal, karena yang paham kapasitas diri kita adalah kita sendiri, bukan orang lain.

Namun.
Keberhasilan dalam mencapai setiap proses bukanlah segalanya. Saya merasa berhasil melewati tahap demi tahap. Kata orang, "hasil tidak mengkhianati proses", tapi yang saya dapat justru sebaliknya.
Ranking paralel yang meyakinkan, membuat saya berani memilih Teknik Lingkungan UI sebagai pilihan pertama di SNMPTN. Saya lupa pilihan kedua dan ketiga, karena saya saat itu hanya mengincar pilihan pertama. Berhasilkah saya? Tidak. Saat itu, yang saya bisa lakukan adalah menangis hingga semalaman.
"Masih ada SBMPTN dan Simak UI.." bisik saya dalam hati.
Bagaimana SBMPTN? Gagal. Simak UI? Gagal.
Rasanya? Mati rasa, tapi yang jelas hampir seminggu menangisi kegagalan, karena tidak bisa menghadiahi orangtua, nenek, dan guru-guru SMA dengan keberhasilan saya.
Kenapa tidak mengikuti Ujian Mandiri PTN lain? Keterbatasan biaya adalah alasannya.
Tidak mencoba mencari cadangan?
Ya, sejak bulan Januari 2015 hingga selesai UN, saya mempersiapkan berkas pendaftaran beasiswa salah satu universitas swasta di Jakarta. Beasiswa yang diberikan sangat besar, meliputi asrama gratis, biaya kuliah gratis, dan uang saku perbulan senilai satu juta. Kakak saya adalah lulusan dari universitas ini dengan menggunakan beasiswa tersebut.
Ada tiga tahap seleksi. Seleksi berkas (surat-surat rekomendasi, essay, rapor, dan sertifikat), seleksi menggambar (saya mengambil prodi Desain Produk Industri), dan seleksi wawancara. Ada yang unik saat seleksi wawancara, karena wawancara tahun ini via telepon. Sementara itu, saya tipe orang yang gugup bicara lewat telepon, dan saya agak ragu bagaimana pewawancara membaca ekspresi saya. Sebelum hari wawancara, pihak panitia akan menghubungi peserta melalui telepon dengan tenggat waktu yang disediakan. Namun, hingga tenggat waktu habis, saya masih belum dihubungi. Saya mulai pesimis dengan hasil gambar yang saya berikan (jika satu tahap lolos, maka lanjut ke tahap berikutnya). Suatu hari, tiba-tiba pewawancara menelpon saya dan menanyakan apabila saya siap diwawancara 10 menit kemudian. Oh. Tidak. 10 menit? Baiklah, demi menjaga integritas, saya bersedia diwawancara dan saya senang karena wawancara berjalan lancar.
Tahap terakhir, saya dinyatakan lulus. Jadi? Apakah saya lantas kuliah di tempat tersebut? Saya ditelpon pihak universitas, apakah saya bersedia menerima beasiswa atau tidak. Saya menjawab bahwa saya akan bertanya terlebih dahulu kepada orangtua. Pihak universitas setuju dan akan kembali menghubungi saya besok pagi. Keesokan harinya, saya harus benar-benar menjawab pertanyaan tersebut... dan... saya... menolaknya.
Bukan karena saya tidak minat. Hati saya masih ingin UI. Lagipula, jika saya menerima beasiswa tersebut, lantas mencoba SBMPTN 2016 dan lolos, saya tidak bisa mundur dari beasiswa seenaknya. Saya harus mengganti semua uang yang telah diberikan. Bukan hal yang mudah, bukan?

Menyesal?
Sedikit. Tapi, ini demi impian saya.
Saya tidak ragu dan tidak memaksa untuk kuliah di tahun itu juga, jika itu bukan jalan saya.
Setiap manusia punya pillihan dan jalan masing-masing.
Kadang, kita melihat bahwa jalan hidup orang lain lebih mudah, indah, dan tanpa halangan.
Tapi, kita tidak berada di posisi orang lain. Ini posisi kita. Bisa jadi, beban yang ia pikul sesungguhnya lebih berat. Bisa jadi, kita tidak tau saat dia pernah terjatuh.
Dan.
Jangan menganggap rendah atau hina orang yang sedang terjatuh. Ingat, roda selalu berputar. Itu benar. Orang yang terjatuh bisa jadi bukan karena kesalahannya, bukan karena kemauannya. Melainkan, karena itulah jalan yang harus ia tempuh. Ingat pula, bahwa segala luka, perih, sakit, sedih, gagal, sesungguhnya akan tergantikan oleh sesuatu yang lebih indah dan tidak kita duga, apabila kita tidak berputus asa dalam berdoa dan berusaha.

Saturday, October 15, 2016

Ronin 2015

Aku lagi iseng buka galeri di hp dan nemu banyak foto anak-anak absurd nan pantang menyerah dalam mengejar mimpi..
Sebelumnya, maaf kalau gaya bahasa yang ku gunakan berbeda dari tahun-tahun sebelumnya wkwk.
Ku sudah lama tidak menulis, jadi harap maklum kalau bahasanya tidak sebagus dulu huehehe.

Tahun 2015..
Bisa jadi tahun kelam bagi kami semua. Tahun yang memberikan kami makna sabar dan bagaimana menerima kenyataan. Tahun di mana kami harus tersenyum bahagia melepas kawan-kawan kami yang hendak melanjutkan studi; sementara kami tengah bingung ke sana ke mari, bertanya-tanya mau ke mana kami?
Kuliah adalah sebuah mimpi idealis kami untuk saat itu. Kami harus kuliah.
Tapi, menunda untuk kuliah adalah realita untuk kami. Kami harus berjuang lagi.
Ya,
Kawan, di sinilah kita bertemu. Kesamaan nasib dan rasa saling mengerti bagaimana rasanya mendapat kata "maaf.." nyatanya mampu mempersatukan kita.
Mungkin tak sempat bagi kita untuk menyatakan bahwa jumlah kita adalah "satu".
Tak sempat bagi kita menuliskan semua kisah perjuangan kita kepada khalayak.
Tak sempat bagi kita mengikrarkan bahwa kita adalah keluarga.
Saat itu hanya ada kita dan perasaan kita yang tercurahkan dalam setiap detik pembelajaran serta perjuangan yang kita lakukan.

Kini, izinkan aku menuliskan dan memperkenalkan kalian semua, Ronin 2015.
Bukan puisi, bukan pula sajak. Ini hanya sebuah ketikan yang berusaha memiliki rima tiada arti karena masih menanti kapan kita kembali tertawa bersama lagi.

Anabel
Akbar nama aslinya
Citayam selalu di hatinya
Tiada kata menyerah dalam kamus hidupnya
Semangat dalam mengejar mimpi ya!
Putri Aditri
Baginya "dia" adalah segalanya
Baginya jodoh akan datang pada waktunya
Kesetiaan yang selalu ia nantikan  
Ingatlah bahwa ronin telah mempersatukan kalian berdua
Mba Project
Ketika belajar bersama mba pro
Biologi terasa mudah
Jangan menyerah
Raih dan genggamlah dunia
Tidak di hatimu, melainkan di tanganmu saja
Enap
Logat khas betawi
Citayam selalu di hati
Sang penakluk nyali
Tak henti meraih mimpi di farmasi
Zafira
Seorang mahasiswa teknik
Yang sangat baik
Baginya tak cukup jika hanya cantik
Yang penting adalah cerdik
Putri
Seorang wanita
Yang suka dipanggil bunda
Yang kini jadi mahasiswi kimia
Sering terbawa perasaannya
Masih saja berharap padanya
Ingatlah dia sudah ada yang punya! wkwk
Ria
Seorang gadis imut yang lucu
Yang jago gambar
Yang bercita-cita kuliah di Jerman
Yang suka Jepang dan Korea
Pecinta hewan yang tak lupa kawan
Lumpiah basah tetep lebih enak daripada bakwan
Anya
Seorang orang(?)
Yang rumahnya paling jauh
Penakluk hati lelaki
Canggih dalam urusan hati
Tetaplah semangat meraih mimpi
Susan
Siswi yang paling muda karena akselerasi
Yang pake baju serasi
Yang nilai try out nya tinggi
Yang suka unjuk gigi
Semoga tidak lupa menggosok gigi(?)
Mei
Namanya Mei
Lahir di bulan Mei
Yang ga suka dipanggil sari
Karena dia bukan sariwangi(?)
Kapankah kita bertemu lagi?
Didi
Laki-laki yang suka duduk termenung
Yang diam-diam punya penggemar
Penggemarnya juga termenung(?)
Ighfar
Ikhwan yang aneh tapi nyata
Yang mirip Afgan katanya
Yang ketampanannya hampir melegenda
Yang otaknya tiada duanya
Jadi kau pilih aku atau dia?
Fikri
Sang tutor Biologi
Yang kemunculannya hanya beberapa kali
Yang rambutnya badai sekali
Yang suka menghayati
Karena dia kuliah di Sekolah Ilmu Teknologi Hayati
Ifan
Laki-laki sejati
Yang tidak suka main hati
Hanya sering main kaki
Tapi dia tidak bau kaki(?)
Kimia selalu di hati
Ingatlah laporan praktikum sudah menanti
Khoir
Pemuda yang suka diam saja
Yang ditanya suka balik nanya
Yang berwibawa suaranya
Yang jago bahasa Indonesia
Jayalah Indonesia!
Willi
Pemuda yang bernama Willi
Yang suka ke sana kemari
Selalu mengingat si jantung hati
Entah kapan harus menanti
Ingatlah tugas sebagai mahasiswa harus dilaksanakan sepenuh hati
Nasir
Anak baru yang tenang seperti air
Try out bahasa Indonesia selalu berpredikat cum laude(?)
Tapi dia tidak sombong lagi angkuh
Tetaplah menjalani hidup dengan rendah hati
Aziz
 "Mas panjeee mas panjee" begitulah panggilannya
Pemuda yang mirip Panji Pragiwaksono katanya
Yang suka jadi mc
Yang jadi artis Depok
Semua orang mengenalnya
Tapi tidak semua orang mengenal hatinya
Ea
Oji
Pak ustdaz yang bijak
Yang tatapannya bak pinang dibelah kapak(?)
Yang tutur katanya menyayat-nyayat
Yang ambisinya laksana senapan AK-47
Marilah bersama-sama membangun Indonesia menjadi lebih baik
Fahri
Pendatang lama
Pendatang baru
Lama baru baginya tiada arti
Kelas pagi
Kelas malam
Pagi malam baginya tiada arti
Demi meraih mimpi
Pertahankan semangatmu, Fahri!
Reza
Bukan penyanyi lagu legenda 
Bukan artis India
Bukan artis Korea
Dia hanyalah Reza 
Ibe
Pemuda yang suka beatbox
Yang mirip Tulus
Yang mencintai dia dengan tulus
Yang ngakunya sekarang kurus
Ingatlah masih banyak yang harus diurus

Dan ada yang ga ada di foto nih...

Agung
Bukan C Sasmi
Bukan juga Hercules
Pemuda yang otaknya tiada duanya
Fisika, matematika, biologi, kimia, dibabat habis olehnya
Bagi-bagi dong ilmunya
Jangan lupa ke Depok bawa bakpia :p wkwk
Zubaidah
Gadis lucu nan baik hati
Yang tidak suka iri lagi dengki
Termenung ke sana kemari
Tapi dia tetap semangat menjalani hari
Bherlie
Perempuan di balik kacamata
Tapi dia bukan mata-mata
Kecantikannya sudah melegenda
Yang masih menunggu untuk berjumpa
Tenang saja kami akan selalu menemani di manapun kau berada 


Wuadu maaf kalau garinggg :"D 
Anak-anak ronin 2015 sudah saya anggap seperti keluarga sendiriii. Benar-benar asik buat main cela-celaan wkwkw. Tawa dan air mata datang silih berganti. Cinta datang silih berganti. Ya, kita dipertemukan bukan tanpa arti, bukan tanpa alasan. Tapi, sungguh, rasa persatuan yang mampu terbentuk kurang dari satu tahun benar-benar sebuah rasa yang datang tanpa alasan.

Inget banget dulu aku sempet ragu-ragu untuk ronin, takut ga punya temen. Takut sama suasananya yang garing, takut guru-gurunya galak, takut punya temen yang juga galak.
Ternyata...
Aku salah.
Justru di sanalah zona nyaman. Teman-teman yang bisa saling membantu dan mengajarkan tanpa ada niat menyombongkan diri. Ya, semata hanya ingin maju bersama tanpa ada yang tertinggal. Sempat dihasut untuk menjadi individualis, tapi kita tetap ambis dalam suatu kebersamaan.
Bahkan, meskipun salah satu dari mereka sempat melukai hati ini, aku tetap tidak memaafkannya(?) loh wkwkwk. Ya, dia tetap mengajarkanku realita dan mengenalkanku tentang perasaan yang sama sekali belum pernah kurasakan sebelumnya.
Kalian permataku, akan kujaga kisah ini hingga kita bertemu dan saling bertatap dalam senyum penuh kebanggaan dan keriduan. Apapun yang terjadi, jangan meninggalkan kisah ini, sejauh apapun kita berada :")
Aaaa jadi baper:(
Terimakasih, mas-mas dan mba-mba :")
See you on top, my best friends :")

Thursday, September 29, 2016

Ayo Bermanfaat

Uhuy jam segini ngeblog?
Gapapalah ya~
Admin hanya ingin menyampaikan permohonan maaf jika di blog terlegendaris sejak saya kelas X ini masih memiliki banyak kekurangan :(
Untuk esai yang saya cantumkan, sebenarnya itu font di ms word TNR ukuran 12, tetapi pas menggunakan teknologi mutakhir berupa copy paste, font nya jadi acak-acakan huhuhu.
Maafkan.. semoga IKM saya tetap aktif :') (?)
Dan berhubung saya "akhirnya" mem-posting tulisan bermanfaat tadi, berasa anak kuliahan ya uhuhuhu cie akhirnya kuliah juga kan lu put wkwk. Setelah satu tahun menanti dan menunggu SBM 2016 ya? Setelah sempat jadi pengangguran selama satu tahun akhirnya terjawab juga ya put:')
Lho kok jadi curhat ya hmm.
Intinya, nanti saya akan usahakan mem-post hal-hal bermanfaat lainnya dan memperbaiki kesalahan pada esai sebelumnya agar bisa dibaca khalayak ramai~

Btw, sedikit sesal di hati ketika post tentang ke-tidak-lulusan saya di seleksi PTN 2015 waktu itu sempet terhapus huff. Jadi, nanti mungkin saya akan menceritakan ulang dengan versi berbeda (campur antara kegagalan 2015 dan keberhasilan 2016) yihiii. Bukan bermaksud sombong, karena apa yang mau disombongin sih? Hehe saya hanya ingin berbagi cerita sekaligus memberikan suntikan semangat bagi teman-teman yang galauin kuliah :") I do understand that kind of feeling :")

Dan nanti beberapa post sebelum ini akan saya hapus karena saya tidak membutuhkan Anda lagi duhai tuan yang selalu benar. Ya, Anda benar-benar orang yang benar membuat saya merasa selalu salah. Betapa tipuan dan ilusi yang Anda buat telah menjebak saya dalam rantai yang tidak semestinya. Betapa kisah yang begitu sebentar mampu mengalihkan setiap detik pandangan Anda. Sadarlah, tuan. Agama yang kau anut itu semestinya menjadi acuan, bukan ajang citra diri belaka. Betapapun kau tidak menyadarinya, semoga kau segera menyadari hal itu.

Segitu dulu yaaa hehe :)
Nantikan postingan selanjutnyaaa. InsyaAllah libur tahun baru saya akan posting banyak hal di Ordinary Notes! Temukan duniamu. Temukan fantasimu. Dunia fantasi(?)

Wednesday, September 28, 2016

ESAI: KONSERVASI TERUMBU KARANG

KONSERVASI TERUMBU KARANG DALAM UPAYA
PENINGKATAN EKOWISATA INDONESIA

Oleh Putri Pertiwi

Pendahuluan

            Indonesia merupakan negara yang terkenal dengan kekayaan sumber daya alam, keindahan gugusan pulau, dan letak geografis yang strategis. Hingga saat ini, Indonesia menempati urutan ketiga negara dengan kekayaan keanekaragaman hayati setelah Brazil dan Kongo. Letak Indonesia yang strategis, yakni berada di antara benua Asia dan Australia, menyebabkan Indonesia memiliki beraneka ragam  flora dan fauna yang begitu kaya dengan karakteristik dan telah menjadi ciri khas suatu pulau atau regional tertentu. Keunikan dari masing-masing daerah menyimpan misteri tersendiri layaknya harta yang harus digali lebih dalam. Tak heran, Indonesia sering menjadi tujuan wisata turis-turis asing yang haus akan keindahan serta kearifan lokal Indonesia.
            Potensi alam yang dimiliki Indonesia menjadi dasar bagi Pemerintah dalam mengupayakan pengembangan sektor wisata Indonesia dan telah menjadi salah satu sektor penyumbang devisa negara. Berdasarkan data Kementerian Pariwisata, Indonesia memberikan kontribusi sebesar 9 (sembilan) persen Pendapatan Domestik Bruto (PDB) pada tahun 2014. Pemerintah kini menargetkan agar sektor pariwisata Indonesia mampu memberikan kontribusi PDB sebesar 15 (lima belas) persen dengan nilai Rp 275 triliun, dengan memberikan kesempatan kerja sebesar tiga belas juta orang pada tahun 2019.
 Namun, sayang sekali, hingga kini, pariwisata Indonesia masih “sekadar” pariwisata, di mana seharusnya pariwisata memiliki sifat kontinu dan tetap berasaskan lingkungan. Hasil konverensi yang diadakan di Beijing tanggal 19 sampai dengan 20 Mei 2016 membawa kabar buruk bagi Indonesia. Diketahui, Indonesia menempati urutan 130 dari 144 negara dalam komitmen pembangunan pariwisata berkelanjutan dengan mengutamakan aspek lingkungan. Dunia telah menilai bahwa Indonesia masih kurang awas terhadap keramahan lingkungan bidang pariwisata. Padahal, lingkungan telah menyediakan lahan dan menjadi sumber utama sektor pariwisata Indonesia.
            Upaya Indonesia dalam membangun pariwisata berbasis lingkungan telah tercantumkan melalui program “Ekowisata” – yang berarti wisata yang tetap mempertahankan kelestarian dan konservasi lingkungan. Melalui ekowisata inilah, diharapkan industri pariwisata Indonesia memiliki peran ganda, yakni sumber devisa dan ajang pelestarian lingkungan. Pemerintah beserta masyarakat diharapkan mampu memperkenalkan potensi wisata di daerahnya dengan tetap memperhatikan aspek lingkungan, kearifan lokal, dan tidak mengubah karakter daerah tersebut.

Definisi dan Peran Terumbu Karang
            Seperti yang kita ketahui, terumbu karang memiliki manfaat yang sangat dominan terhadap kelestarian dan menjaga keseimbangan ekosistem laut. Berdasarkan padanan kata, terumbu karang (coral reef) terdiri dari dua kata yang memiliki perbedaan makna, antara lain karang yang berarti sekumpulan binatang dan terumbu yang berarti struktur kalsium karbonat (CaCO3) yang dihasilkan oleh karang. Binatang karang sendiri ternyata merupakan sekumpulan hewan-hewan kecil yang menetap dan tidak memiliki kemampuan mobilisasi disebut polip. Dalam susunan klasifikasi, karang berada dalam filum Cnidaria dengan kelas Anthozoa.
            Polip dalam sepanjang hidupnya bertahan hidup dengan memakan plankton yang terbawa arus air laut. Polip menangkap mangsanya menggunakan tentakel yang tersusun di tubuhnya. Polip juga menyerap kalsium karbonat dari air laut dan mengeluarkannya dalam bentuk struktur kapur yang keras, di mana struktur ini berperan sebagai pertahanan tubuh polip yang bersifat lunak.
            Karang terbagi menjadi dua jenis, yakni karang keras dan karang lunak. Karang keras hidup bersimbiosis dengan alga bernama zooxanthellae. Karang jenis ini hidup di perairan dangkal dimana sinar matahari bisa menembus dengan baik. Karena zooxanthellae memperoleh energi dengan proses fotosintesis. Karang keras membentuk struktur terumbu dan memiliki tubuh yang keras seperti batu. Karang lunak tidak bersimbiosis dengan alga, bentuknya seperti tanaman. Karang jenis ini bisa hidup di perairan dangkal maupun perairan yang lebih dalam.
            Terumbu karang menjadi habitat bagi sebagian besar hewan laut, bahkan juga memberikan manfaat bagi keseimbangan ekosistem di darat. Biota laut, seperti clown fish sangat menggantungkan hidupnya pada terumbu karang. Hewan ini menetap, berkembang biak, dan mencari makan di terumbu karang bersama dengan ikan-ikan kecil yang memiliki keindahan bentuk dan corak yang sangat memikat setiap pasang mata. Tidak hanya itu, ikan-ikan yang dikonsumsi manusia pun tinggal di terumbu karang, seperti ikan kerapu, ikan baronang, dan ikan ekor kuning. Dengan kekayaan biodiversitas inilah, terumbu karang mampu menjadi sumber keanekaragaman genetik dan spesies.
            Terumbu karang juga memiliki peran dalam melindungi pantai dan pesisir dengan memperkecil energi ombak yang menuju ke daratan. Dalam peranan ini, abrasi pantai bisa dicegah, apalagi jika ditambah dengan hutan mangrove di pesisir pantai. Efek reaksi kimia dalam terumbu karang mampu mengkonversi karbondioksida menjadi zat kapur yang merupakan bahan baku terumbu dengan bantuan zooxanthellae, tumbuhan bersel satu yang hidup di jaringan terumbu karang.
            Selain bidang ekologi, terumbu karang juga membawa manfaat penting dalam bidang pariwisata, terutama wisata berbasis lingkungan. Dengan adanya terumbu karang, ekosistem laut akan terlihat lebih indah, menawan, dan mampu memanjakan mata. Hingga kini, daerah laut yang menjadi pusat diving seperti Nusa Dua dan Raja Ampat memanfaatkan terumbu karang untuk menarik minat pengunjung menyelami dan menelusuri perairan tersebut. Dengan keindahan yang tiada duanya, tak heran jika banyak turis atau wisatawan domestik yang rela merogoh kocek hingga jutaan rupiah demi melihat wujud ekosistem terumbu karang dan mengabadikannya dalam gambar.

Kondisi Terumbu Karang di Indonesia

            Persebaran terumbu karang di dunia kini mengalami penipisan akibat perubahan iklim global dan ulah manusia yang tidak memperhatikan aspek lingkungan dalam aktivitasnya. Meskipun memiliki struktur yang kuat dan kokoh, terumbu karang tidak mampu bertahan dalam perubahan suhu lingkungan yang sangat drastis. Untuk dapat bertumbuh dan berkembang biak secara baik, terumbu karang membutuhkan kondisi lingkungan hidup yang optimal, yaitu pada suhu hangat sekitar di atas 20oC. Terumbu karang juga memilih hidup pada lingkungan perairan yang jernih dan tidak berpolusi. Hal ini dapat berpengaruh pada penetrasi cahaya oleh terumbu karang.
            Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) mencatat, hampir sepertiga dari jumlah terumbu karang di Indonesia berada dalam kondisi yang kurang baik atau bahkan rusak. Sebanyak 30,4 persen dari total luas terumbu karang yang dimiliki oleh Indonesia berada dalam kondisi rusak atau tidak baik. Hanya sebesar 2,59 persen dan 27,14 persen yang dalam kondisi sangat baik dan baik. Selebihnya, 37,18 persen dalam kondisi kurang baik.
            Terumbu karang di Indonesia memiliki luas sebesar 2,4 juta hektar, yang berarti merupakan kawasan terumbu karang terluas di dunia. Selain itu, biodiversitas ekosistem terumbu karang di Indonesia juga menempati urutan tertinggi di dunia. Sayangnya, berbagai survei menyatakan kondisi terumbu karang yang sangat memprihatinkan. Dengan melakukan pengamatan di 1.135 stasiun, hingga tahun 2013, tercatat 5,29 persen dalam kondisi sangat baik, sebesar 27,14 persen masih dalam kondisi baik, dan sebesar 37,18 persen dalam kondisi cukup. Sisanya sebesar 30,4 persen dalam kondisi tidak baik.
            Kondisi terumbu karang terparah berada di daerah Teluk Jakarta. Persentase terumbu karang yang baik di teluk Jakarta tidak mencapai dua persen. Data ini dirilis oleh LIPI dalam diskusi media bertajuk “Riset Ekosistem Terumbu Karang di Indonesia” yang berlangsung di Media Center LIPI, Jakarta, Kamis, 17 April 2014. Baru-baru ini juga terjadi kasus corat-coret terumbu karang yang dilakukan oleh wisatawan di daerah Nusa Penida, Bali, yang menandakan bahwa banyak masyarakat yang tidak sadar akan peranan terumbu karang bagi ekosistem maupun bidang ekonomi.
Konservasi Terumbu Karang dan Ekowisata
            Peranan terumbu karang yang sangat tinggi berbading terbalik dengan kesadaran manusia yang semakin menurun terhadap pentingnya menjaga kelestarian alam sekitar, termasuk kelestarian terumbu karang. Kondisi memprihatinkan terumbu karang, tingkat biodiversitas yang semakin menurun, hingga kerusakan dan kematian terumbu karang semestinya menjadi perhatian khusus saat ini. Hingga kini, pemerintah dan masyarakat sekitar perairan laut terus berupaya dalam rangka melestarikan ekosistem terumbu karang yang menjadi sumber mata pencaharian dan devisa negara. Namun, sayangnya, belum ada payung hukum yang benar-benar diterapkan dan memberikan efek jera bagi pelaku pengrusakan ekosistem.
            Ekowisata sendiri telah memberikan angin segar terhadap keberadaan terumbu karang dan potensi sumber daya alam Indonesia. Ekowisata menerapkan prinsip bahwa pariwisata tidak hanya memberikan manfaat bagi pengunjung, tetapi juga manfaat untuk alam, ekosistem, hingga masyarakat global. Program ekowisata sendir mendapat dukungan dari Deputi Kepala Staf Kepresidenan, Yanuar Nugroho dalam seminar publik bertajuk "Eco Tourism: Globalizing Local Communities Without Impacting the Environment" yang diadakan di Jakarta, 28 September 2016. Masalah yang menjadi fokus perhatian pemerintah adalah mencari cara untuk memperkenalkan pariwisata daerah dengan tetap menjalankan konsep ekowisata, yakni melestarikan lingkungan dan kehidupan masyarakat setempat di area-area tujuan pariwisata Indonesia. Yanuar menambahkan, pengembangan pariwisata harus dilakukan dengan mempelajari lingkungan dan kehidupan di daerah tersebut. Pengembangan pariwisata jangan sampai menghilangkan identitas asli penduduk setempat, seperti makanan khas, kebudayaan, dan adat istiadat.
Mencegah lebih baik daripada mengobati. Kondisi yang sedemikian buruk bisa dicegah dengan tetap memberikan ruang hidup bagi terumbu karang. Komunitas pecinta alam dan bawah laut sudah sangat sering melaksanakan program konservasi terumbu karang melalui kegiatan wisata, yang dalam hal ini adalah wisata berbasis lingkungan. Memberikan edukasi kepada setiap pengunjung maupun masyarakat luas diharapkan mampu menyadarkan betapa terumbu karang adalah anugerah yang benar-benar harus dijaga. Tidak ada salahnya jika ingin mengabadikan momen di terumbu karang, namun pengunjung juga harus tetap memperhatikan etika lingkungan dan kelestariaannya.

Penutup

            Menikmati dan menelusuri kekayaan alam negeri sendiri menyimpan berjuta kisah yang tiada bisa digambarkan secara jelas dan seindah jika melihat kenampakannya secara langsung. Pariwisata Indonesia memberikan peluang bagi pecinta alam untuk menggali lebih dalam keunikan serta kearifan lokal setiap daerah di Indonesia, sekaligus berperan menigkatkan perekonomian Indonesia dan penduduk setempat. Saat ini, ekowisata sungguh dibutuhkan dalam upaya penjagaan kualitas keanekaragaman hayati dan membentuk karakter wisatawan guna menjaga keseimbangan ekosistem. Terumbu karang yang menjadi pusat keseimbagan ekosistem laut maupun darat seharusnya menjadi perhatian khusus, apalagi dengan kondisi yang sudah sangat memprihatinkan, karena rusaknya terumbu karang juga berarti rusaknya keseimbangan ekosistem global. Sebagai pemuda Indonesia, yang juga memiliki peran agent of change, sudah sepatutnya menyadari kondisi lingkungan sekitar dan turut serta melaksanakan pelestarian alam tanpa mengesampingkan kepentingan pemerintah dalam upaya peningkatan perekonomian.

Daftar Pustaka


 

Template by BloggerCandy.com