Sunday, March 16, 2014

Story of My 'Hijab'

Assalamu'alaikum.. 
Lihat judul di atas udah tau kan, kita mau bahas apa? Belom tau? Sini aku kasih tau. Jadi, malam ini kita bakal bahas sejarah bagaimana admin blog ini memakai pakaian muslimahnya, atau yang biasa disebut jilbab; dan kisahnya tentang lika-liku menjadi muslimah seutuhnya. Langsung aja ya..

Kalian udah tau kan, kalau berjilbab (menutup aurat) hukumnya wajib? Belum tau? Wah, kalau begitu dibuka lagi Al-Qur'an surat Al-Ahzab ayat 59. Monggo, dibaca dan dipahami isinya :)
Hmm lanjut ya. Setiap orang mempunyai cara tersendiri dalam mendapat hidayah-Nya. For example, beberapa wanita kadang harus 'terjatuh' dulu sebelum mereka sadar betapa pentingnya menutup tubuh mereka. Sementara beberapa yang lain mendapat hidayah itu dari teman, kerabat atau keluarga.
Pertama kali ingin memakai jilbab, waktu aku masih kelas 6 SD. Saat itu, aku sama sekali belum tau mengenai kewajiban menutup aurat. Tapi, alhamdulillah para wanita di keluargaku mayoritas sudah berjilbab. Mungkin inilah faktor yang menyebabkan hari itu tepat dimana aku menyampaikan keinginanku berjilbab kepada ayahanda. Setelah mendengar kalimat: "Pak, Putri nanti kalau keterima di SMPN 1 mau pake jilbab". Bapak ku menjawab: "Serius? Miapah?" (eh salah) ehm.  begini: "Yakin? Tapi nanti kalau udah pake, sholatnya jangan bolong-bolong lagi. Jangan suka marah-marah, jangan galak, rajin ngaji.."
Ya, aku berjilbab karena ingin melanjutkan sekolah di sana. Semacam nazar. Dan bapak ku mengizinkan, sekaligus bertindak sebagai saksi janjiku ini.
Tapi, apakah aku akan tetap berjilbab jika aku tidak bisa meneruskan sekolah di sana? Waktu itu aku masih santai menanggapi pertanyaan itu. Karena masih belum mengerti tentang kewajiban itu.
Hingga waktu penentuan pun tiba. Di sanalah aku sadar bahwa Allah memang sayang hamba-Nya. Aku diterima di SMPN 1 Depok. Lihat.. Masih terasa betapa indahnya masa itu. Aku bisa merasakan dua kebahagiaan sekaligus. Pertama, aku bisa menepati janjiku. Kedua, aku bisa studi di sekolah yang sangat aku impikan.

"Perempuan berjilbab belum tentu berakhlak baik". Ya, itu benar. Buktinya adalah aku. 
Setelah aku memakai pakaian itu, aku tidaklah seperti yang dikatakan ayahku. Ibadah masih saja terlalaikan. Ngaji? Hmm baca Al-Qur'an pun masih terbata-bata. Dan aku adalah orang yang sangat emosional. Waktu itu aku masih belum sadar bahwa aku telah melakukan banyak kesalahan. Aku tidak malu, tidak pula takut. Karena yang terpenting, aku telah menunaikan janjiku.

Teman memang menentukan akan jadi apa kita. Alhamdulillah, dulu aku sempat berteman dengan anak-anak yang rajin ikut mentoring. Setiap hari Jum'at sepulang sekolah, kami menyempatkan diri berkumpul dan mendalami ilmu agama. Awalnya aku malu karena belum bisa membaca Al-Qur'an dengan benar. Tapi, di sanalah aku belajar. Hingga satu bulan kemudian, mentor melihat perkembanganku dalam membaca Al-Qur'an. Dia bilang: "Putri, kamu sudah bagus bacanya.." Aku bersyukur ternyata Allah tidak pernah meninggalkan hamba-Nya yang berusaha kembali menuju jalan-Nya.
Seiring berjalannya waktu, dan perlahan aku kembali menjadi muslimah seutuhnya, aku mulai membenahi segala perilaku dalam diri. Tadi telah dijelaskan bahwa waktu itu aku masih lalai beribadah. Setelah aku bergabung dalam organisasi Rohani Islam, aku berusaha tidak meninggalkan sholat. Bahkan, secara rutin setiap istirahat pertama (jam 9.30) aku pergi ke masjid menunaikan sholat sunnah Dhuha. Lagi-lagi, teman-temanku lah yang 'membujukku' melakukan kebaikan itu.

Sayangnya, dulu aku tidak bisa menjaga hati. Waktu kelas 8, aku pernah menjalin kisah cinta yang dilarang agama (pacaran) dengan salah satu laki-laki. Meskipun hubungan itu hanya berjalan 2 bulan, tapi dampaknya cukup besar. Pertama, setelah kami putus, kami menjadi lebih sering bertengkar. Kedua, aku memutuskan hubungan pertemanan dengan temanku yang kemudian dia menjadi pacar dari mantanku itu. Ketiga, karena ingin melampiaskan kekesalan, mencari tempat untuk dijadikan pelampiasan, aku kembali menjalin hubungan dengan laki-laki yang merupakan teman dari mantanku itu. Keempat, aku (kami) telah menghancurkan reputasi organisasi keagamaan kami. Padahal aku tau kalau perbuatan itu melanggar aturan Allah.. Tapi aku tetap menjalankannya. Astaghfirullah..
Menginjak kelas 9, aku memutuskan hubunganku dengan orang yang kedua itu. Aku tidak kecewa. Karena alasanku memutuskannya adalah karena aku ingin sukses ujian hingga bisa meneruskan sekolah ke SMAN 3 Depok. Ya, aku sangat menginginkannya.
 
Aku kembali berjanji. Kalau nanti aku bisa lulus SMP dengan hasil rata-rata ujian Nasional di atas 36 dan lolos seleksi smanti, aku akan berhenti pacaran. Dan keinginanku terkabul. Akhirnya aku bisa bersekolah di sana. Dan aku harus menunaikan janjiku itu.
Hmm ternyata janji itu bukan sembarang janji. Aku kembali masuk ke dalam organisasi Rohani Islam. Aku menemukan banyak perbedaan di sana. Anggotanya, mereka kebanyakan tidak memiliki niat untuk menjalin perasaan dengan lawan jenis. Mereka percaya, kalau pacaran adalah dilarang, tidak menimbulkan manfaat sama sekali. Mereka percaya, bahwa ada saatnya dimana nanti kita menemukan pasangan masing-masing, diridhoi Allah, dan percaya bahwa pernikahan adalah solusi terbaik bagi yang saling mencintai. 
Jadi, tak hanya ingin menunaikan janji. Aku berhenti pacaran karena aku juga yakin atas kalimat penjelasan mereka. 
Hmm SMA ini aku memang pernah menyukai salah satu di antara lelaki yang kukenal di sana. Dia pun sepertinya tau itu. Tapi aku tak ingin terjerumus lebih dalam. Karena bagiku, yang terpenting sekarang adalah, membenahi diri menjadi lebih baik untuk masa depan. Membenahi diri, akhlak, prestasi, kepribadian menjadi semakin baik agar kelak mendapat pasangan yang juga berakhlak, berprestasi, dan berkepribadian baik.

Aku telah nyaman menjadi seperti ini. Aku tak pernah berhenti berusaha memperbaiki apa yang telah rusak. Hati, pikiran, jiwa semua aku jaga demi reputasi ku di mata Allah sebagai muslimah. Aku telah berjilbab, InsyaAllah seutuhnya.

Kadang, aku suka sedih melihat beberapa muslimah zaman sekarang.. Hmm bukan sedih sih, melainkan khawatir terhadap mereka yang belum menutupi perhiasan mereka.  Perhiasan yang bukan hanya terletak di luar, tapi juga di dalam (hati). Ya. Kebanyakan (termasuk mungkin aku ini), belum bisa istiqomah dalam menjaga diri. Hati ini, seperti sangat mudah mempersilakan segala perasaan yang seharusnya belum layak dirasakan.
Melihat seseorang yang bukan mahrom-nya dengan perasaan itu, mulai ingin memilikinya walau tidak sesuai tuntunan agama, dan merasa dunia ini hampa tanpa hadirnya (duhileh) seakan telah menjadi bahan utama yang membuat hati ini semakin kotor..
Jujur, aku merasa sedih bahkan ingin menangis ketika ku ingat hal itu.. Apa yang telah aku lakukan? Membuang-buang perasaan (yang katanya cinta) itu hanya untuk orang yang belum jelas.. Bukan belum jelas apakah dia juga memiliki perasaan (yang katanya cinta) itu kepadaku, melainkan belum jelas apakah nanti dia yang menjadi pemimpin, pembimbing, pendamping ku nanti menuju jannah.

Aku ingin bangun, bangkit kembali seperti saat pertama kali membangkitkan kembali semangat-ku memeluk Islam.
Hati ini, pikiran ini takkan lagi kuisi dengan orang yang 'belum jelas'. Baiklah, aku mungkin mengaguminya, tapi hanya sebatas itu. Baiklah, aku mungkin berharap dia terus sukses, tapi hanya sebatas teman yang mengharapkan temannya sukses. Cinta padanya? Jangan harap hal itu terjadi lagi (untuk sekarang). Ya. Tidak kuizinkan perasaan itu padanya/pada yang lain kembali masuk (jika memang tidak sama sekali sampai kapanpun diizinkan). Hey, malulah sama Allah.. Telah Dia titipkan hati, bukan untuk merasakan yang belum pantas, tapi untuk mengubah provitamin A menjadi vitamin A :) *ehm* maksudnya, untuk istiqomah beribadah pada-Nya, bercermin, dan membenahi hati itu :)
Put, ayo Put.. Jangan lihat lagi masa lalu perasaan mu itu ;) Jalanmu masih panjang, belum pantas untuk merasakan pahit getir manisnya cinta yang tak dikenal. Hatimu, hanya untuk yang diperuntukan untukmu =)

Sebenarnya, tujuanku menulis ini adalah untuk saling mengingatkan, mengenai banyak hal:
1. Mengingatkan bahwa perhiasan wanita muslim itu sangat mahal, bahkan saking mahalnya, kita diharuskan untuk menutup perhiasan itu.
2. Tidak ada kata terlambat untuk membenahi diri, kembali hidup untuk mengharap ridho Allah dan menghamba kepada-Nya. Selagi ada waktu, yuk ajak diri ini ke jalan menuju surga.
3. Jebakan syaitan itu sangat banyak. Termasuk masalah hati. Apa yang menurut kita rasakan adalah baik, wajar; belum tentu di mata Allah adalah hal yang baik, dan wajar. So, watch your step.
4. Bentengi diri dengan hal-hal positif. Cari teman dekat yang bisa mendekatkan kita pada kebaikan.
5. Lihat masa depanmu, tatap ia lekat-lekat, jangan dilepas, hingga sadar betapa masa depan yang cerah lebih berharga daripada membuang perasaan untuk hal yang tak sepenting hidupmu nanti.

dst:)

Yang lebih penting dari ini semua, yuk, sama-sama saling mengingatkan untuk mencintai apa yang pantas dicintai. Dan... Jangan sampai kita mencintai sesuatu lebih dari kita mencintai Allah.

Bismillah, istiqomah-kan hamba-hamba-Mu dalam beribadah pada-Mu yaa Allah :')

Wednesday, March 5, 2014

4L4Y-ALAY

Assalamu'alaikum.. Hai sobat semua :) kabar baik? baik kabar (?) baiknya kabar baik?
Ehm. Judul postingan kali ini adalah ALAY. Hmm kenapa gue ngebahas masalah alay? Jadi gini ceritanya.. Pada malam yang gelap, dingin, dan sepi. Seorang gadis muda berusia 16 tahun (sebut saja namanya Putri) sedang asik bermain dengan dunia maya. Tiba-tiba terbersit di dalam benaknya untuk membuka salah satu media sosial yang dibuat oleh Mark Zuckerberg. Dan seterusnya ia melihat begitu banyaknya sejarah, memori, ingatan, yang membawanya ke masa lalu saat dia masih duduk di bangku menengah pertama, dan seterusnya, dan seterusnya..

Kira-kira begitulah kronologis atau faktor yang menyebabkan terpostingnya judul na-as di atas. Hehe.

Alay. Hem. Alay itu apa? Kalau menurut bahasa, ada orang yang bilang kalau alay merupakan akronim dari 'Anak LAYangan'. Entah apa yang membuat mereka berfilosofi demikian. Yang jelas, filosofi ini membuat gue berpikir kalau anak alay, adalah anak-anak yang hobi main layangan di tengah terik matahari sore hingga terbakar rambut serta kulitnya yang mulai agak berubah wujud (?)
Menurut sisi psikologis, alay merupakan suatu kondisi dimana terjadinya masa transisi dari anak-anak ke remaja. Nah, kalau yang ini gue mulai agak percaya. Penggunaan kata 'transisi' memang patut dibenarkan.
Karena pada hakikatnya, rata-rata anak abad 20 pernah berpengalaman di bidang alay. Contohnya? Ngaca aja sama diri Anda sekalian. Hehehe. 

Gue pun pernah menjadi anak alay. Alay banget. Hal ini terbukti ketika gue mencoba dan memberanikan diri membuka fb. Kejadian mengerikan ini terjadi tepat malam ini. Gue scroll down ke bawah.. Hingga menemukan sosok diri gue yang begitu...... Meng-iyuh-kan. Kenapa? Dari mulai status, komentar, foto, gaya bahasa, semuanya sangat tidak etis. Irrasional. Tidak dewasa. Ehm. Dulu itu lagi jaman-jamannya 'pacaran' 'galau yang tidak beralasan' 'lagu-lagu cinta' 'dsb'. Duh, hal-hal tersebut benar-benar berhasil membuat gue terkontaminasi virus alay.
Bayangkan saja, gue pernah nulis status yang isinya agak menyakiti perasaan temen gue sendiri. Sedikit cerita aja nih.. Dulu gue pernah pacaran *astaghfirullah. Jangan ditiru*. Hubungan alay itu alhamdulillah cuma berjalan 2 bulan dalam waktu normal. Karena sering putus-nyambung-putus-nyambung-hingga akhirnya benar benar putus. Nah, putusnya gue ini disebabkan karena rasa cemburu terhadap temen gue (sebut saja namanya diza). Dia sahabat gue. Tapi dia merampas seseorang itu. Alhasil, di 'wall' gue banyak terukirkan kalimat-kalimat gak jelas. Sangat tidak jelas. Dan parahnya lagi, kalimat-kalimat itu lahir dari tarian jari jemari ini :'(
Gue yang membaca status emosional itu ngerasa kaget luar biasa. Dalam hati cuma bisa bilang: "apa ini gue? Masa sih? Nggak ah. Tapi kayaknya sih iya. Astaghfirullah"
Dan tanpa berpikir panjang, gue hapus status-status itu. Kenapa dihapus? Gue gak mau aja kalau nantinya bakal ada fitnah yang enggak-enggak. Misalnya, jika nanti ada orang yang buka akun gue, ngeliat tulisan itu, dan berpikir: "Orang islam, pakai jilbab, tapi kok ngomong dan sikapnya kayak gini?" Naudzubillah. Hiii ngeri. 

Lanjut. Alay mempunyai satu faktor penentu berhasil atau tidaknya seorang anak menjadi alay, yaitu lingkungan. Betapa kuatnya pengaruh lingkungan dalam membentuk kondisi emosional dan kejiwaan anak. Perkembangan jaman juga termasuk faktor penunjang terbentuknya alay.

Kalau dipikir-pikir, kadang alay bisa menjadi gejala psikologis yang normal. Yaa walaupun alay memang sama sekali abnormal, tapi apakah akan ada normal jika gak ada abnormal? (Hmm apalah itu)

Kadang, anak alay juga bisa terlihat dari 'dresscode-nya'. Seperti apa? Seperti: rok yang tingginya hanya mencapai betis dengan lipatan sekecil mungkin dan seketat mungkin, celana yang bahkan mungkin memerlukan waktu 1 jam untuk memakainya karena begitu sempit, memakai seragam yang ukurannya lebih kecil dari ukuran asli badan penggunanya, rambut lurus hasil catokan 'failed', tas kecil bahkan sampai memakai tas bergambar kartun anak-anak (sempat berhembus kabar kalau tas itu adalah tas adiknya sendiri. Hmm), sepatu dengan warna mencolok tajam, aksesoris berlebihan, dan lain sebagainya. Dresscode alay ini bisa kalian liat di beberapa sekolah terdekat atau terjauh, silakan cek. Gue heran. Apa yang membuat mereka nyaman dengan itu semua? Apa mereka tidak merasa aneh ketika melihat ada anak sekolah lain yang memakai seragam/pakaian rapi, teratur, bersih, dan sesuai aturan? Dan yang anehnya lagi, gue pernah seangkot dengan anak-anak alay, dan mereka meneriaki temannya yang juga alay dengan kata: "ALAY!" -_- okesip. Gue cuma bisa mingkem.
Memang sih, mereka punya kebebasan dalam berekspresi lewat fashion masing-masing.. Tapi ada kalanya keinginan ber-fashion itu dihentikan ketika memakai seragam sekolah. Pakailah seragam sebagaimana mestinya. Agar terlihat anak sekolah adalah anak yang disiplin, rapi, dan berpendidikan :)

Ngebahas alay emang susah nemuin ujungnya. Yang pasti, kalau kalian pernah/sedang alay, jangan coba-coba jatuhin harga diri kalian karena alay. Karena gue pernah alay, dan agak menyesal. Gak selamanya alay adalah hal positif. Jika memang ada sisi positifnya, yaa mungkin itu cuma se-per-berapa bagian. Sisanya negatif. Dan jika memang ada hal yang lebih positif selain nga-lay, kenapa tidak mengambil hal positif itu? Daripada harus mengambil jalan yang ada negatifnya.
Duh, sebenernya gue bingung banget sama tulisan di atas. You know, paragraf terakhir. Heran deh kenapa gue selalu gagal nulis bagian penutup. Ah sudahlah yaa.. Postingan ini disudahi saja. Tulisan Ini hanya sebatas opini, kalau marah, yaa jangan marah (?) Sekian. Wassalamu'alaikum :)

Monday, February 17, 2014

Tangga-Cinta Tak Mungkin Berhenti

Voc: Tangga                                                  Arr: Harry Budiman, Dennis Nussi, Johandi Yahya.

Tak ada kisah tentang cinta
Yang bisa terhindar dari air mata
Namun ku coba menerima, hatiku membuka
Siap untuk terluka
Cinta tak mungkin berhenti secepat saat aku jatuh hati
Jatuhkan hatiku kepadamu sehingga hidupku pun berarti
Cinta tak mudah berganti, tak mudah berganti jadi benci
Walau kini aku harus pergi tuk sembuhkan hati

Walau seharusnya bisa saja dulu aku menghindar
Dari pahitnya cinta
Namun ku pilih begini, biar ku terima
Sakit demi jalani cinta (cinta)

Cinta tak mungkin berhenti secepat saat aku jatuh hati
Jatuhkan hatiku kepadamu sehingga (sehingga) hidupku (hidupku) pun berarti
Cinta tak mudah berganti, tak mudah berganti jadi benci
Walau kini aku harus pergi tuk sembuhkan hati

Hanya kamu yang bisa (…)
Bisa membuatku rela (rela menjalani segalanya)
Rela menangis karenamu (ku rela ku rela …)

Cinta tak mungkin berhenti secepat saat aku jatuh hati
Jatuhkan hatiku kepadamu sehingga hidupku pun berarti
Cinta tak mudah berganti (cinta tak mungkin berhenti)
Tak mudah berganti jadi benci (tak mudah untuk berganti)
Walau kini aku harus pergi tuk sembuhkan hati
Biar ku pergi sembuhkan hati

*Dududududuh.. Parah banget emang. Pertama kali denger lagu ini entahlah tiba-tiba langsung ada tetesan air yang keluar dari sudut mata. Ngena banget lagunya. Sama persis seperti konflik waktu itu yang sampai sekarang masih dipendem. Duh, parah ah jadi galau gini hahaha :') 
Ah udahan ah galaunya. Kasian Kimia nungguin daritadi hehehe :) see ya :)*

Sunday, February 16, 2014

Dilema Anak Sekolah

Huahhh.. Gak ngerti lagi sama kegiatan di sekolah. Aneh-aneh, rumit, waktu pengerjaan yang sedikit, waktu pelaksanaan yang terbentur dengan kegiatan lain, dan lain-lain, dan lain-lain.
Semua kerjaan rumit ini kadang membutuhkan sumbangan energi materil maupun moril bahkan waktu yang lebih. Dimulai dari kegiatan drama/teater; yang selama 1 semester ini bakal ada 3 tugas drama. Pertama: drama bahasa indonesia. Kedua: drama bahasa Inggris. Ketiga: teater seni budaya hingga puncaknya pada pagelaran. Benar-benar super. Apalagi mengingat semester lalu gue juga ada tugas teater seni budaya. Khusus seni budaya, tugas ini memang gak main-main. Setiap jam pelajaran ini dimulai, kita harus melakukan pemanasan atau latihan vokal. Sebelum latihan vokal, ada baiknya melakukan peregangan dengan berlari-lari kecil. Setelah semua pemanasan selesai, baru kita mulai menggarap adegan dalam cerita. Dan jangan harap penggarapan ini gampang dan cuma sebentar. Kadang, untuk menggarap satu adegan, kita membutuhkan waktu kurang lebih setengah jam. Itu semua karena kesalahan blocking, dialog, ekspresi yang kurang greget, dan lain sebagainya.
Gak cuma dari segi dramanya aja. Pagelaran nanti juga harus berkolaborasi dengan kelompok musik yang mengaransemen lagu, dan kelompok tari yang mengiringi beberapa adegan. Nah, gak kebayang berapa lama kita harus latihan demi menggarap sebuah pertunjukan yang gak malu-maluin. Karena nantinya, pagelaran ini bakal ditonton sama satu angkatan atau bahkan dari angkatan lain. Oh. No.
Peran gue di teater kali ini bener-bener out of my comfort zone. Penasaran? Oh enggak? Yaudah.

Semua tugas drama ini seperti mengubah sesuatu dalam diri gue. Hmm.. Karena peran-peran yang selama ini gue mainkan sangat beragam, jadilah gue seperti gak punya watak asli. Kadang gue diem, kadang gak jelas, kadang heboh, kadang emosional, dan berganti-ganti sampai gue bingung siapa dan apa sebenernya gue ini.

Itu sekilas tentang tugas drama/teater di sekolah. Sekarang, gue mau cerita tentang kegiatan belajar di sekolah yang.... Yaa.. Gitu deh.

**Semua bermula ketika mata pelajaran itu merubah segalanya. Merubah masa SMA yang seharusnya menjadi masa dimana anak-anak merasa bahagia bersama teman-temannya. 
Semestinya, mata pelajaran itu mengajarkan dan membimbing kita (para pelajar) untuk menghargai jasa para pahlawan, mencintai negeri ini, dan rela berjuang sampai mati demi tanah air. Tapi, pelajaran ini malah memaksa kita untuk rela berjuang sampai mati demi mencapai kriteria ketuntasan minimal. Tugas dari mata pelajaran ini tidak main-main. Semua tugas bagaikan skripsi yang mempunyai banyak sekali aturan dalam pengerjaannya. Sedikit saja salah, revisi harus dilaksanakan. Setelah itu, tampilkan hasil diskusi di depan kelas. Hafal. Hafal. Hafal. Ya. Kita harus menghafal materi, dan bahkan menguasai materi. Karena, nantinya dia akan melontarkan pertanyaan yang sebenarnya tidak perlu ditanyakan kepada anak murid program IPA. Kalau tidak bisa menjawab, remedial taruhannya.
Setelah tugas selesai (hampir selesai), tibalah menguji kemampuan anak-anak. Ulangan harian. Ulangan tertulis. Esai. Tanpa hitungan, tanpa ilmu pasti, semua hanya hafalan, haruskah dan bisakah melewati itu semua? Bagi anak sosial mungkin itu bisa dilakukan. Tapi bagi anak ilmu pasti? Tidaklah mudah mencapai nilai memuaskan kalau bentuk ujiannya seperti itu. Seperti apa? Seperti: di luar kisi-kisi, waktu belajar yang sedikit, dan dihantui perasaan tertekan. Dan ketika banyak yang gagal, malah menyalahkan anak-anak dan bilang: tidak serius belajar, tidak mencari informasi, dsb. Dan apa yang kami rasakan? Selama ini kami belajar serius bahkan sangat serius demi mata pelajaran ini; mata pelajaran yang sebenarnya tidak ada di program wajib kami. Belajar hingga larut malam, merelakan waktu main dan waktu istirahat, bahkan hingga jatuh sakit pun kami lakukan. Tapi apa? Dan mengapa? Mengapa mempersulit dan menyalahkan? Tidak mencari informasi? Telah banyak informasi yang kami cari. Sangat banyak. Hingga penuh catatan kami mengenai materi itu. Tapi sayangnya, catatan kami masih belum memenuhi apa yang diinginkan oleh soal-soal itu. Dan sayangnya, semua itu terjadi karena mata pelajaran yang kami pelajari bukan hanya mata pelajaran ini. Apakah kami harus menyelam ke dalam materi itu dan meninggalkan materi pelajaran lain? Tidak, bukan?
Sekarang, ketika semua hasil telah terungkap, dan kami gagal.. Kami kecewa. Awalnya dipaksa, disalahkan. Ya. Kami selalu salah. Tidak mengapa, kami menerima itu semua. Hitung-hitung, kami melatih diri menjadi lebih kuat, lebih baik. Dan dengan mengenal ini semua, kami bisa menjadi manusia yang bisa menghargai usaha orang lain.**

Jangan kira anak sekolah gak punya dilema karena banyaknya kegiatan di tempat mereka menimba ilmu. Bayangkan saja, setiap hari tugas-tugas datang berkerumun, ulangan harian yang rumit dan penuh kesukaran harus dilalui dengan nilai yang memuaskan. Jika tidak, harus mengulangnya sampai tuntas. 
Bagaimana bisa berprestasi jika memiliki banyak tuntutan? Apalagi, mengingat semua mata pelajaran ingin menjadi prioritas. Ketika kami ingin memprioritaskan pelajaran ini, pelajaran lain datang menghampiri minta dijadikan prioritas. Begitu seterusnya.
Mungkin beberapa anak bisa berprestasi meskipun dalam kondisi seperti itu. Tapi, bagaimana bisa berprestasi dalam kondisi tertekan dan tidak mempunyai kebahagiaan? Pastilah di dalam hati masih tersimpan kekesalan, stress, dan bahkan emosi meluap-luap. Apakah itu bagus? Tidak. Hal seperti itu tidak pernah menjadi sesuatu yang positif.

Lalu, bagaimana seharusnya? Dari sisi murid, kami memang harus menerima, menelan ini semua. Tidak peduli itu pahit atau manis. Toh, nantinya, semua pengalaman baik dan buruk ini bisa memberikan hikmah bagi kami dan berguna untuk kehidupan nantinya di saat kami tumbuh dewasa. Tidak mengapa jika harus menangis atau marah atau menangis sambil marah karena pahitnya masa-masa ini. Tapi, jangan lupa untuk kembali tersenyum dan menata ulang hati agar utuh, hingga siap menghadapi rintangan lainnya. Memang lelah, tapi inilah jalan untuk membuat kita semakin kuat :)
Dari sisi pembimbing, hmm.. Ada saat dimana tidak seharusnya memaksa atau memforsir tenaga dan pikiran kami. Kami manusia, dan punya batasan dalam mengerjakan sesuatu. Terkadang kami lelah, sakit dsb. Mengapa harus mempersulit langkah kami untuk sukses? Mudahkan kami. Jika ingin kami sukses, semua ada kuncinya. Kami butuh pujian, bukan disalahkan. Mengapa tidak katakan: "Kalian mengerjakannya dengan baik." atau "Saya tau kalian telah belajar dengan baik". Mengapa malah mengatakan: "Hasil pekerjaan kalian masih buruk" atau "Tidak bisakah kalian belajar dengan serius?"
Dengarkan keluhan kami, baca raut wajah kami.. Seperti seorang pembimbing yang bisa membaca raut wajah kami; di saat kami menunjukan ekspresi kesusahan, ia menyudahi jam pelajarannya, dan mengajak kami berbincang, mengizinkan kami mengisi ulang energi, hingga kami kembali pulih. Ia mendengarkan keluhan kami dan memudahkan langkah kami untuk sukses. Ya. Seperti itulah seharusnya. 
Tidak mengapa jika semua ini sudah terlanjur menjadi adat tradisi. Kami menerimanya dan kami tetap tersenyum :) Lihatlah, kami tersenyum dalam peluh :')
 

Template by BloggerCandy.com