Saturday, February 10, 2018

Tentang Hari Ini

Entah apa yang terjadi, rasanya sulit untuk melepas pun sulit melanjutkan dengan cara yang sama.

Wanita, seperti sebuah bunga. Yang di luar terkesan lemah, namun sejatinya ada duri yang siap melindunginya. Seperti sebuah bunga yang indah dipandang, pun rapuh mahkotanya.

Aku hanya ingin kamu mengerti, bahwa tidak mudah mendapatkan bunga yang tumbuh di puncak ini. Aku ingin kamu mengerti ketika kamu sudah mendapatkan, maka mempertahankan justru akan jauh lebih sulit.

Egois tidak akan pernah hilang sekalipun kita menginginkannya. Cukup saling mengerti apa yang dibutuhkan, cukup saling menghargai atas kehadiran satu sama lain.
Aku, yang memiliki banyak kebutuhan, namun tidak ingin menuntut akan apa yang tidak kamu miliki.
Kamu, yang memiliki banyak kemampuan, sehingga tidak ingin aku mengeluh atas apa yang kamu lakukan.

Kita perlu banyak belajar.

Entah dari siapapun itu, belajarlah untuk selalu ada dan selalu mengerti meskipun salah satu dari kita tidak melihat itu.

Sunday, January 21, 2018

Karena Aku Terluka

Tidak sehebat orang lain yang mampu jadi cahaya di tengah kegelapan, yang mampu menjadi mutiara di tengah lumpur, bahkan di tengah berlian.
Aku masih membawa gelap di dalam kegelapan, masih membawa ketapel di tengah Perang Dunia II.
Ke mana senjataku yang dulu? Masihkah ada sisa harapan untuk melawan semuanya? Masihkah ada sisa kemampuan untuk bertahan?

Setelah semua yang mereka katakan, mereka lakukan, bahkan mereka catat semua tentangku.
Mereka berhasil menguasai hampir semua kesan terbaik yang aku tunjukan.
Aku ingin menjadi yang terbaik? Ya. Agar aku menjadi seperti mereka--terang di dalam gelap.

Mungkin saatnya untuk menyerah, saatnya untuk menyudahi semua perlawanan.
Tidak pernah mempan rasanya usaha untuk bangkit kembali, untuk mengabaikan galat yang ada.

Biarlah.
Nikmati luka itu.

Monday, January 1, 2018

Tidak Ada Judul

Hai.
Dua belas hari lagi kita mungkin bertemu. Entahlah, kamu sudah bilang untuk tidak ada lagi hari itu, hari yang selalu aku tunggu dan yang paling indah dari 365 lainnya.
Berikan aku waktu sejenak untuk mengungkapkan semuanya, kapan aku bisa masuk ke sana, hingga kamu mengerti bahwa aku tidak pernah bermain-main? Tidak ada sandiwara sedetik pun.
Bahkan lidah ini kelu setiap aku ingin mengeluh di hadapanmu. Prasangka yang membuatku takut untuk mengatakannya. Tidak, aku bukan takut. Aku hanya ingin mengalah terhadap keadaan. Biarkan semuanya mengalir tanpa ada campur aksaraku di sana.

Tuan, aku sungguh tidak mengerti.
Pikiran ini bahkan meracau kalut tak tertahankan. Pernahkah aku menanam luka yang sengaja aku tumbuhkan di sana? Pernahkah aku mendesiskan bualan hanya demi kebahagiaanku sendiri? Pernahkah, Tuan, aku berhenti walau sedetik, untuk tidak menuliskan huruf demi huruf yang terangkai indah hanya untuk kamu (dan aku)?
Maaf, masih adakah aku?
Masih hidupkah namaku di sana?

Betapa aku melihat kamu berani tanpaku, betapa aku lihat kamu kuat tanpaku. Dapatkah kamu menjelaskan semuanya?

Tuan, tanya ini selalu untukmu, aku harap kamu mengerti, "siapkah kamu membersamai ilalang di tengah taman penuh bunga-bunga indah nan gemulai?"

Biarkan aku bahagia olehmu, Tuan. Biarkan kita bahagia, berhenti menyiksa hati.
Biarkan aku, ilalangmu, hanya bisa dimengerti oleh Tuan.

Jika kamu mengerti, kawanku yang jauh lebih indah daripada diriku ini selalu memanggil untuk aku kembali.
Aku menghabiskan senja untukmu, apakah Tuan lupa?
Aku mengabaikan mereka agar aku bisa melihat Tuan bahagia, merasakah Tuan?
Kisahku, susahku, hanya aku curahkan kepadamu, walaupun setiap hurufnya kadang mampu menggoreskan luka. Ke mana kah Tuanku selama ini?

Tuan, untuk sekali saja, biarkan aku bernafas dengan cintamu. Biarkan aku layu dengan penuh kebahagiaan bahwa ada seseorang yang bersedia menjadi kawan sepanjang hidup ilalang ini.

Hanya engkau.
Namun tak jua kabut itu hilang.

Salam,
Ilalangmu, yang selalu rindu.

Monday, December 25, 2017

Pick Your Head Up, Princess!

Yayaya, mungkin 3 abad yang lalu saya menulis di blog yang "awalnya"  diniatkan untuk menulis hal-hal berfaedah, ilmiah, dan berbobot. Berkecimpung di dunia perkimiaan membuat saya lupa akan tugas mulia saya sebagai satu-satunya admin yang aktif mengurus irtuper.blogspot.com (haha berasa punya banyak admin)
Gimana rasanya kuliah? BEDA. Oke, intinya kuliah itu berhasil membuat diri saya semakin galau "akan jadi apa nanti?" yha ibarat que sera sera, what ever will be, will be, saya berusaha untuk "yowis karep dadi opo sing penting ora nyusahkeun" (?) bukan, saya nggak punya niat buat jualan handphone kok..... okesip.

Di sini saya tidak bercerita banyak mengenai suka duka asem manis pahit asin rame rasanya kuliah, tapi lebih mau cerita tentang bahasan yang sebenarnya basi kali yah buat jadi bahan perbincangan di era tubirisasi ini. Maaf, saya memang belum skripsi, masih anak bawang di kampus, tapi ini adalah curahan hati dari seorang wanita yang beranjak 21 tahun di mana tangan mungil ini akan menerima undangan dari teman sebaya yang akan melangsungkan pernikahan.

Oke.
Buat pembaca sekalian (terutama kaum wanita) yang sedang berbunga-bunga alias dimabuk cinta, selamat kamu akan melewati fase di mana kamu dan dia benar-benar diuji. Gimana maksudnya? Awal kalian kenal, mungkin kalian bakal sering ngerasa 'Akhirnya gue nemu jodoh gue,' 'ih dia keliatan baik dan penyayang banget ya' dan lain sebagainya, di mana pemikiran seperti itu datang karena kalian masih menyembunyikan jati diri kalian yang sebenarnya. Baik dirimu dan dirinya, sama-sama ingin menjaga image dalam rangka mengurangi sifat-sifat yang bakal mengecewakan.
Urusan komunikasi, pastinya lancar jaya, ada aja bahasan yang jadi topik perbincangan, bahkan malah suka diulang-ulang. Lagi-lagi, masing-masing dari kalian memegang kendali penting dalam situasi ini. Rasa nyaman dan (mungkin, tapi ini dilarang) tidak ingin kehilangan teman bicara, membuat kalian bisa saling bertukar cerita setiap hari, setiap menit, bahkan kalau bisa setiap detik. Ingat, jangan sampai salah satu dari kalian merasa sakit ketika harus tau bahwa, "lo cuma gue anggep temen ngobrol doang kok" sakit bruh, udah 'cuma' ditambah 'doang'.

Lalu, mana ujiannya? Semua terlihat indah tuh? Iya, indah pada awalnya, hingga ada satu masa di mana itu titik awal pertempuran yang menguras tenaga, emosi, dan air mata.
Setelah tau si dia ternyata nggak sesuai sama apa yang kita harapkan, lantas itu jadi modal besar untuk memicu keributan. Entah ternyata dia memang cuek dan terkesan enggan terlihat manis di depan kamu, atau kamunya yang ternyata orang yang BM-an alias banyak mau. Intinya, masing-masing dari kalian akan (paling tidak pernah) mengucap "oh ternyata kamu gini ya."
Setiap penyakit ada obatnya. Buat para pembaca berhati kuat yang sedang mengalami fase ini, coba untuk ingat kembali bahwa kalian memilih menjalani ini semua bukan karena dia seperti apa atau akan jadi apa. Dia adalah dia. Bersyukurlah ketika kamu jadi tau "lecet"nya si dia, karena suatu saat nanti, justru lecet itu yang bakalan membuat kalian "berbeda", menguatkan, serta memperindah jalan yang kalian lalui. Dan, hei, jangan sedih, lihat sisi baiknya, hanya kamu yang mengetahui seperti apa dia, bukan orang lain. Poin tambahannya, mencintai itu bukan sekadar menerima apa adanya, namun juga melengkapi bagian yang kurang dari diri masing-masing.

Lanjut.
Suatu hari, komunikasi kalian tersendat. Entah karena dia asik dengan kawan-kawannya, ujian, atau karena hal lain. Hmm ini merupakan bagian tersulit menurut saya. Harus ada tek tok yang jelas antar masing-masing individu. Kita berhak bertanya, "kenapa susah dihubungi?" atau seperti lagu kangen band, "kamu di mana? dengan siapa?" oke skip. Buat kaum hawa memang sulit rasanya untuk cuek terhadap kondisi yang di sana. Tapi, sebetulnya semua akan baik-baik saja. Jika memang dia tidak ingin jujur atau bahkan memang tidak ingin mengungkapkan apa yang sebenarnya terjadi, tetaplah menjadi pelita di hidupmu /ea
Maksudnya, sebagaimana pun kamu memikirkan dia, tetap kendalikan pikiran agar waktu yang tersedia tidak terbuang sia-sia. Cobalah untuk tersenyum dan mulai berkata "oke, dia memikirkan dirinya sendiri, maka aku juga akan bertindak demikian"
Be strong, girls!

Banyak faktor yang membuat kamu dan si dia bertengkar atau merasa tidak nyaman. Jangan anggap itu sebagai beban, anggap itu sebagai krayon sinchan yang mewarnai perjalanan hidup kalian berdua. Ayeay.

Nah. Setelah tadi bermanis manja dengan situasi yang djelimet, namun tetap indah, sekarang saatnya masuk ke bagian terpahit.
Yap.
Ketika kamu dan si dia sudah tidak saling cocok, dalam hal ini sudah tidak menemukan jalan keluar dari keinginan masing-masing, egois berada dalam puncak tertinggi, dan tidak ada lagi kata respect dalam kamus kalian, sudah! Lupakan.
Satu hal yang pasti dan perlu diingat, dia bukan yang terbaik. Masih ada seseorang yang jauh lebih baik daripada dirinya. Pun, kamu masih bisa mengembangkan kemampuan kamu, sehingga kualitas diri kamu akan melesat jauh.
Jangan berharap bahwa dia akan kembali. Tidak ada istilah yang tepat untuk menggambarkan hal tersebut. Cukup fokus ke dirimu, impianmu, dan mulai lembar baru!
Based on true story, kadang ketika lagi sedih-sedihnya ditinggal, pergi ke tempat wisata itu bisa sangat membantu. Mengapa? Karena di situlah kita bisa menghibur diri sendiri, sambil memungut kembali bongkahan, hingga kepingan yang sudah hancur. Mungkin kita sudah telanjur berharap banyak, namun ingat, harapan kita tidak hanya terpaku pada satu hal saja, masih banyak harapan yang harus diwujudkan. Bahkan, bisa jadi itu adalah ladang kebahagiaan tempat kita tinggal.
Terlebih, jangan sampai kesedihan yang datang merusak kebahagiaan yang kita dapatkan. Kamu berhak bahagia :D

Dapat disimpulkan bahwa tulisan saya kali ini mostly tentang bagaimana mengatur dan mengatur-ulang hati bagi yang sedang berada dalam salah satu dari fase di atas. Yap, memang, rasanya campur aduk. Tapi sekali lagi, jangan jadikan itu sebagai beban. Buat kaum wanita, tetaplah kuat, jadi dirimu sendiri, dan jangan lupa untuk bahagia. Stop crying. Pick your head up, Princess, your tiara is falling!

PS: membenci dan mencintai secukupnya, jangan serahkan semuanya hanya demi urusan perasaan. You're pretty precious.
 

Template by BloggerCandy.com